Headline News
Loading...

Artikel : Es Campur Buah dan Politik

Baca Kabar ini juga . . .

oleh : Baikuni Alshafa
Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur 2016-2018




Cuaca panas yang menyengat kulit menjalar keseluruh pori-pori membuat setiap mahluk mengernyit kepanasan.

Seperti siang ini cuaca diluar sana begitu panas, memaksa kulit ini diperas mengucuri butiran air kecil mengalir kesekujur tubuh yang keluar dari pori-pori.

Pasalnya tubuh juga mengalami dehedrasi, yang secara sadar organ-organ tubuh ini termagnet mencari sumber asupan air yang mampu mengaliri rongga tenggorokan untuk menyegarkan kembali kondisi tubuh.

Setibanya saya berada dalam ruangan yang memberi keteduhan dari hingar bingar kenyataan dan panasnya cuaca diluar sana, "Es Campur Buah" menyedot perhatian ketika salah satu tayangan televisi lokal menarik mata tertuju pada resep beragam warna warni racikan buah segar menjadi minuman dengan baluran es yang menyegarkan.

Sudah pasti minuman ini melegakan dahaga, dengan kandungan buah asam dan manis bercampur aduk didalamnya. Mendorong saya untuk melahap buah yang menggoda nalar dan keyakinan dari kemolekan warna warni yang terlihat menonjol oleh mata telanjang dalam gelas bening, membuat saya geregetan untuk segera menuangkan kerongga mulut.

Campuran buah yang berwarna warni, simultan mengajak pikiran saya menghubungkan dengan tayangan media ekstrim beberapa pekan ini yang tak bosan-bosan nya memberitakan hajatan besar daerah, dalam melakukan persilangan jenis alat politik yang mencampur adukkan dengan beragam jenis warna.

Semua itu hanyalah "simulacra" bahasa Dr. Haidar Nasir dalam melihat kenyataan hanya angan-angan, membawa pancaran mata yang membelolok terpana sedari tadi hanya jadi objek simulasi oleh suguhan media sosial.

Yang tak satu tetespun baluran es buah itu membasahi rongga kenikmatan saya, kenikmatan hanya boleh jadi berada pada angan- angan semu. Angan ini mengingatkan saya sekilas setelah pemberitaan media membanjiri suguhan pentas politik pilkada serentak. Seolah tidak ada bedanya dengan racikan "es campur buah" yang didalamnya bisa dipesan sesuai selera pembuat dan penikmatnya.

Pilkada serentak tak lama lagi akan digelar, semua akan terpana oleh pupur yang dibalur secara apik melalui pemberitaan media tentang penjilat lidah dalam membuat racikan penyegaran disetiap panasnya situasi, dengan jargon-jargon yang mampu menyentuh hati penikmatnya.

Sudah semestinya tak sedikit para penonton terpesona oleh keluguan, ketampanan, kebijaksanaan, ketegasan, kepedulian, kecerdasan, semua yang baik baik menjadi jurus tandur. (hati- hati, karena tak jarang semua itu sesuai dengan pesanan selera tuan donaturnya).

Warna- warni melaui hingar bingar partai politik seketika amburadur menjadi satu adukan dalam wadah pilkada daerah yang sudah pasti saling sikut menyikut, berkontraksi adu cocot sesuai kehendak pesanan.

Pengkolonian berdasarkan perbedaan 'ideologi', sebagaimana yang ditafsirkan sebagian orang serta kelompok pengikutnya, nyatanya cuma pepesan ikan asin yang sebenarnya murahan dikemas menjadi menarik untuk dijual mahal. Toh nyatanya ideologi partai tidak ada nilainya bagi keumuman rakyat.

Jika kalian masih belum yakin dengan pepesan yang berbau anyir itu untuk melihat kenyataan, silahkan kalian renungi dan resapi hingga kalian puas. Lalu saya sarankan bersiap-siaplah menahan pompaan jantung yang detakannya terasa kencang didada anda, sehingga ketika sadar kalian tidak kecewa, serta patah hati tertipu oleh resep adonan sesuai keinginan dan kepentingan bos.

Seperti halnya saya yang diajak media mengilustrasikan "Es Campur Buah" ketika panas dahaga menyengat, pada ahirnya cuma angan yang tak benar benar menyeruak rongga tenggorokan dengan harapan melepas dehedrasi.

Boleh siapa saja tidak yakin tentang kenyataan oleh ketidaktahuan yang memang tidak pernah merasakan di PHP oleh janji yang keluar dari mulut berbau anyir para calon pemenang. Sementara garis pemisah ideologi serta koalisi parpol bermain dengan kawin cerai, bahkan secara terang terangan selingkuh dengan tidak sungkan menyebar kedaerah daerah.

Bukan soal moral, karena moral mereka dengan moral kita pasti berbeda. Boleh jadi, acak-acak aduk bak warna warni jenis buah dalam es campur memiliki kesamaan seperti pesta demokrasi kita yang memang wajar untuk menggoda berkoalisi, serta kawin-cerai.

Jika menguntungkan rujuk kembali, sesuai pesanan tuan dibelakangnya. Mungkin menurut mereka bukan persoalan, namun hanya untuk kebaikan rakyat. Tapi rakyat yang mana??

Sudah pasti kebaikan menurut selera masing masing, sekalipun rakyat sering tertipu oleh nyanyian mereka melalui kursi kegembiraan, bersama hidangan Es Campur yang buah politik nya sesuai selera pemenang..!!
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Artikel : Es Campur Buah dan Politik"