Headline News
Loading...

Artikel : Dimana Pemuda ??

Baca Kabar ini juga . . .

Dimana Pemuda ??
(Refleksi Menyambut Peringatan Sumpah Pemuda)
oleh : Ubay Nizar Al-Banna 
Ketua Bidang Media & Komunikasi DPD IMM Jawa Timur


"Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia," kurang lebih demikianlah kata-kata Bung Karno yang amat melekat dan kerap digaungkan oleh kaum muda, kaum intelektual, mahasiswa.

Banyak kisah-kisah "legendaris", heroik, dan begitu "vital"-nya peran pemuda di masa lalu. Kita tengok berdirinya Sarikat Prijaji dan Sarikat Dagang Islamijah (kemudian berubah menjadi Sarikat Islam), Boedi Oetomo, berbagai organisasi dan forum ataupun perkumpulan kalangan pemuda (dulu) di berbagai daerah yang saat itu memang masih bersifat kedaerahan, masing memegang fanatisme terhadap daerah dan agama masing-masing seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, dan lain sebagainya.

Sedikit kita berkaca pada sisi historis perjuangan pemuda dalam membangun bangsa dimana kesadaran akan pentingnya menghimpun pemikiran dan kekuatan untuk berjuang merebut kemerdekaan Indonesia bermula pada sistem Politik Etis yang diterapkan oleh Belanda pasca runtuhnya kongsi dagang (VOC) yang membuat indonesia berada dibawah perintah langsung dari Kerajaan Belanda. Setelah mengalami berbagai pergolakan pada masa Gubernur Jenderal Daendels dengan Culturstelsel-nya hingga pada akhirnya Pemerintah Kerajaan Belanda menerapkan Politik Etis atau dikenal sebagai Politik Balas Budi dengan mencakup tiga ranah, yaitu edukasi, irigasi, dan transmigrasi. Dengan penerapan politik etis, Belanda semakin melanggengkan penjajahannya terhadap rakyat Indonesia.

Namun, berkat kebijakan tersebut, muncullah tokoh-tokoh, intelektual muda yang kemudian mampu membuka mata terhadap imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda. Berbagai oeganisasi berdiri dipelopori oleh kaum muda (pemuda) seperti Sarikat Prijaji (1906) yang bergerak pada bidang literasi dengan Medan Prijaji sebagai senjatanya (meskipun kemudian dianggap gagal dan akhirnya bubar), Boedi Oetomo (1908), Sarikat Dagang Islamijah (1909) yang bergerak pada sektor sosial-ekonomi (kemudian berubah menjadi Sarikat Islam pada 1912), Muhammadiyah (1912) yang bergerak di bidang sosial-keagamaan, Tri Koro Dharmo (1915) yang menghimpun murid-murid STOVIA, dan berbagai organisasi lain yang kemudian muncul berkat kesadaran dan persamaan rasa yang sama-sama anti kolonialisme dan imperialisme, meskipun masih bersifat lokal kedaerahan dan belum terstruktur dengan baik serta belum terciptanya konsolidasi yang bagus.

Namun, dengan berbagai latar persamaan nasib sebagai individu maupun bangsa yang tertindas, para pemuda kemudian mampu mengesampingkan sifat egosentris dan fanatismenya terhadap faktor daerah, agama, dsb yang selama ini menjadi sekat dalam gerakannya untuk melawan penjajahan dan merebut kemerdekaan dengan berlangsungnya Kongres Pemuda I pada 30 April-2 Mei 1926 dengan diketuai oleh M. Tabrani dan dihadiri oleh organisasi kepemudaan yang sebelumnya telah muncul. Kongres pertama ini pun menghasilkan keputusan berupa :

1. Mengakui dan menerima cita-cita Persatuan Indonesia
2. Usaha untuk menghilangkan pandangan adat, daerah, dan agama


Meskipun banyak ketidak puasan dikarenakan masih sangat sulitnya menghilangkan sifat egosentris dan fanatisme kedaerahan dan agama yang selalu dibawa. Namun, kemudian pemuda melalui PPPI dan PI kembali berhasil mengjimpun para permuda dari berbagai daerah dan organisasi dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 yang diketuai oleh Soegondo Djojopoespito dan RM. Djoko Marsaid sebagai wakilnya. Kongres kedua ini pun dilaksanakan di tiga tempat dan menghasilkan ikrar yang dibacakan oleh Soegondo Djojopoespito dan kemudian dijelaskan oleh M. Yamin serta diikrarkan oleh seluruh peserta Kongres.

"Kami putra dan putri Indonesia mengaku pertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia"

Ikrar tersebutlah yang kemudian menjadi pemersatu pemuda dalam melawan penjajahan dan mengangkat harkat serta martabat bangsa. Ikrar tersebut telah benar-benar terinternalisasi dalam jiwa para pemuda hingga tekad dan perjuangannya telah mampu membuka dan memasuki gerbang kemerdekaan (17 Agustus 1945), sebuah awal baru bagi Indonesia tentunya.

Pasca kemerdekaan Indonesia, gerakan Pemuda tidak berhenti hanya sampai disitu. Tetapi gerakan Pemuda Mahasiswa terus melahirkan organisasi-organisasi baru serta memunculkan kesadaran patriotik untuk membela bangsa dan negaranya. Pemuda pun kerapkali terlibat pada berbagai dinamika dalam membangun bangsa dan mempertahankan kemerdekaan. Para pemuda (mahasiswa) pun banyak terlibat dalam gerakan yang mampu membawa "era" baru dalam berbangsa dan bernegara. Runtuhnya era-orde lama dan hadirnya era-orde baru, peristiwa malapetaka 15 Januari 1974 (Malari), hingga peristiwa trisakti dan semanggi yang juga berbarengan dengan mundurnya Soeharto dari kursi presiden karena tekanan besar serta terbukanya gerbang reformasi, pun dengan berbagai gerakan lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu, pemuda (mahasiswa) acapkalo terlibat dalam rangka membangun bangsa untuk menjadi bangsa yang beradab, menjadi bangsa yangberdaulat, adil, dan makmur, untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya.

Berbagai hal telah terjadi dalam sejarah masa lalu bangsa ini, tak terasa 88 (delapan puluh delapan) tahun sudah sejak para pemuda pertama kali mengucapkan ikrarnya untuk memersatukan bangsa, pun 71 (tujuh puluh satu) tahun sudah usia kemerdekaan bangsa Indonesia sejak pertama kali memproklamasikan "kebebasannya" dari rong-rongan penjajah. Lantas, apakah negeri ini, bangsa ini sudah bisa disebut baik, sudah bisa dibilang mencapai harapan, tujuan, dan cita-citanya untuk menghadirkan kehidupan yang adil bagi seluruh rakyatnya ?

Gerakan pemuda yang dikenang dan dikenal "garang" dalam masa lalu bangsa, kini seolah mengalami kebuntuan dan terpolarisasi dalam berbagai kepentingan dan fanatisme buta. Pemuda (mahasiswa) kini seolah terjebak dalam romantisme masa lalu, tebelenggu pada pragmatisme materialistik, dan terkotak-kotakkan oleh kepentingannya masing-masing.

Berbagai persoalan, problematika besar tengah dihadapi negeri ini, kasus korupsi yang makin menjadi-jadi, hukum yang tumpul keatas dan sangat runcing kebawah, kesenjangan ekonomi, pemimpin-pemimpin dan wakil rakyat yang seolah kehilangan marwah dan moralitasnya, pendidikan yang diliberalisasikan, dan berbagai prpblem lainnya tengah dihadapi negeri ini, namun pemudanya (mahasiswa) dengan berbagai organisasinya seolah hanya bergerak pada ruang eksistensinya semata, tanpa ada keselarasan dan arah juang yang nyata.

Menyambut momentum Sumpah Pemuda ke-88, seharusnya mampu menjadi refleksi akan getirnya perjuangan untuk membangun bangsa ini, hingga ikrar pemuda yang "legendaris" tersebut mampu benar-benar terinternalisasi dalam diri dan menjadi pembakar semangat untuk terus bergerak, berjuang memperbaiki bangsa ini dengan karya nyata, dengan peluh dan keringat, mungkin kita tidak lagi berjuang dalam "adu fisik" layaknya zaman penjajahan, namun bukan berarti itu menghilangkan "lahan garapan" kita untuk terus berkarya dan membangun negeri.

Semoga pemuda (mahasiswa) kini mampu benar-benar memahami dan memaknai serta mengaktualisasikan ikrar (sumpah pemuda) untuk memersatukan bangsa serta mampu benar-benar menjadi ujung tombak dalam perubahan bangsa melalui berbagai karyanya, semoga mampu menjadi problem solver dan menjawab berbagai tantangan yang tengah dan akan dihadapi bangsa ini.

Cicero mengatakan "historia magistra vitae", yaitu bahwa sejarah adalah guru bagi kehidupan, maka sudah sepatutnya bagi kita bukan untuk belajar sejarah, tetapi belajar dari sejarah.

Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer berpesan dalam karyanya, Jejak Langkah, "Didiklah rakyat dengan organisasi, didiklah penguasa dengan perlawanan".
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Artikel : Dimana Pemuda ?? "