Headline News
Loading...

Artikel : Kedaulatan yang Hilang

Baca Kabar ini juga . . .

oleh : Baikuni Alshafa
Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur 2016-2018



Lukisan serupa rumpun padi tumbuh disawah, menyerap pandangan eloknya negeri ini, hamparan sawah dan pancaran matahari dipagi hari mengiringi petani- petani bersemangat kerja di hamparan ladang tanah garapnya.

Dari tangan petani mengolah dan menggarap tanah menjadi harapan bagi kemakmuran pangan dalam negeri. Kehidupan tani Indonesia yang sejahtera dan tidak nista masih menjadi cita-cita dan terus diperjuangkan hingga kini.

Kondisi tani serumpun jiwa suci, hidupnya nista abadi, serumpun padi mengandung janji (syair maladi). Guratan syair ini melukiskan kondisi sebaliknya cita cita kehidupan petani yang sejahtera, dikala lahan lahan mereka setiap pesatnya perkembangan teknologi dan industri mengalami penyusutan, penyusutan yang dipaksa kehilangan lahan garapnya.

Petani semakin berkurang dipaksakan beralih produksi, karena lahan garapnya dirampas berubah berupa lapak besar industri perkebunan, hutan beton yang tumbuh pesat hanya dimonopoli oleh sekeliat manusia suka menumpuk kekayaan dan pemuja kesenangan.

Lahan lahan tanah produksi negeri ini hanya dikuasai segelintir manusia yang rakus, rakus untuk memiskinkan rakyat indonesia. Dari sekitar 45,034 juta hektar tanah dipergunakan untuk pertanian atau sekitar 23,46% dari seluruh dataran indonesia.

Jumlah yang cukup besar untuk lahan pertanian indonesia, namun penguasaan lahan serupa penjajahan baru ini memperlihatkan bagaimana perusahaan besar baik yang bergerak di bidang, perkebunan, tambang, migas, nelayan, serta maraknya pengembang properti, semakin leluasa menjarah tanah-tanah rakyat.

Dalam usaha membebaskan kaum tani dari penderitaan inilah kita kenang hari yang membangkitkan dalam sejarah perjuangan kaum tani yaitu, Hari Tani Nasional yang bertepatan pada tanggal 24 September ini.

Sebagai reflektif perjuangan yang hingga detik ini rakyat Indonesia menetaskan jutaan air mata bak seluas hamparan hektar tanah mereka yang dirampas dan dimiskinkan. Coba lihat bagaimana negeri ini penuh jutaan korban lapak besar kapital yang tidak tertolong dengan penuh pengorbanan peluh dan air mata.

Seolah hadiah kedaulatan hanya untuk para pemenang lapak dilaga kompetisi, dinegeri yang semakin diliberalisasi kesegala sektor perekonomian.

Langkah demi langkah percobaan terus dilakukan, sebagian besar rakyat terus berusaha mencari penghidupan, hari demi hari tak lekang guratan sengatan matahari, hingga hujan pun tak terasa jika basah mengguyur sekujur tubuh dari giatnya langkah perjuangan, demi hanya untuk bertahan hidup di negeri bak zambrut di khatulistiwa.

Apa yang tidak ada di negeri ini, jika hamparan alam menghiasi keindahan dan eloknya negeri yang subur akan kekayaannya, sehingga tidak memberi syarat bagi rakyat menimpa kemiskinan. Namun apa kenyataannya??

Negeri begitu kaya akan sumber daya alam dan manusia di negeri Indonesia ini begitu melimpah, sekitar 199 juta hektar keseluruhan struktur tanah nya, dengan jumlah hutan produktif 121,4 juta hektar, sehingga hampir tak ada penolakan investasi kapital di negeri ini untuk berlaga merebut kekuasaan dalam arena kompetisi, disegala sektor liberalisasi modal, ekonomi kontrak karya serta hak guna usaha, dan lainnya.

Ibarat perlombaan mencapai tahta laga kompetisi internasional, penguasaan dan strategi menjadi keahlian masing masing pemilik akomulasi modal. Perlombaan itu berupa perebutan hadiah tahta mahkota penumpuk kekayaan di negeri zambrut khalustiwa.

Terlebih dengan bonus demografi angkatan kerja yang begitu produktif dengan harga harga yang begitu variatif untuk mendapatkan tenaga kerja murah di negeri ini, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen nya penduduk yang tidak produktif.

Sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedangkan usia tidak produktif sekitar 60 juta jiwa. Namun yang terjadi saat ini mengenai profil ketenagakerjaan di Indonesia juga mengkhawatirkan. Dari 255,4 juta penduduk, jumlah angkatan kerja Indonesia masih mencapai 122,38 juta. Dari jumlah itu, sementara sisanya 7,56 juta merupakan pengangguran (tergolong usia produktif). (Baca Indonesia pengangguran, data bank dunia dan BPS).

Dari angka tersebut, 38,2 juta orang (31,7%) adalah pekerja di sektor pertanian, jumlah ini merupakan yang terbesar di antara tenaga kerja dari semua sektor. Sedangkan Industri pengolahan-manufaktur, menyerap 15,9 juta (13,2%), bangunan dan konstruksi 7,7 juta (6,4%), perdagangan, rumah makan, hotel dan retail 28,4 juta (23,5%), transportasi, pergudangan dan komunikasi 5,1 juta (4,2%) untuk menyerap tenaga kerja, (angka angka itu sangat rawan pengangguran).

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, hampir separuh (47,1%) dari angkatan kerja di Indonesia adalah lulusan SD ke bawah sehingga dunia usaha sulit mendapatkan tenaga kerja dengan kualifikasi yang mumpuni.

Dari gambaran ini para spekulasi modal dan investasi akan berbagi piala kedaulatan. Kedaulatan yang hanya memuaskan pemuja kesenangan yang suka menumpuk kekayaan. Piala itu dibagi bagi, sesuai struktur klasifikasi modal yang ada di kelas sosial.

Sedangkan pemenang lomba ini akan menguasai hadiah sekitar 45,034 juta hektar untuk lahan Pertanian.16,5 juta hektar diantaranya untuk perkebunan (terus melebar) dan 8,5 juta hektar persawahan (namun terus berkurang). Selain itu ada disektor spekulasi industri manufaktur, garmen, tekstil dll.

Di negeri setengah jajahan ini, dimana penguasaan lahan hanya untuk segelintir manusia raksasa, seperti Prajogo Pangestu (Barito Pacific) dengan penguasaan tanah berjumlah 6.158.670 hektar, Andi sutanto 3.437.000 hektar, PO Suwandi 2.988.000 hektar, Burhan uray 2.775.000 hektar, Bob Hasan 1.936.000 hektar, In Yong Sun 1.436.000 hektar, H.A Bakrie 1.226.300 hektar, Alex Karampis 1.152.00, Pintarso Adiyanto 995 hektar, catatan (RisetTim Agra). masih banyak jutaan hektar lainnya yang dikuasai beberapa manusia monster pemangsa lahan berkisar 64.291.436 hektar bersama penguasaan Negara.

Terlihat negara sangat tidak nampak keberpihakannya kepada rakyat terkhusus petani dan buruh tani. Ketika terjadi konflik antara perusahaan besar dengan petani, Negara hanya menjadi garda depan membela mereka merampas dengan topeng kekuasaan.

Seperti kasus, gunung kendeng Jogja, sumber pitu di Banyuangi, konflik lahan semen vs samin di Rembang, konflik tanah di Malang selatan dll. Menurut catatan KPA, pada periode 2004-2014, terjadi 1.520 konflik agraria yang dihadapi rakyat dan begitu sulit untuk diselesaikan.

Hari tani nasional tetap akan terus bergema dari kesadaran rakyat, karena kelas-kelas penguasa akumulasi modal akan terus menjarah dengan beragam cara. Untuk mendapatkan medali penguasaan lahan seprti sumber tambang emas, minyak, tembaga, nikel, timah, gas, batu bara, dan aneka jenis pasir yang tersedia di negeri ini.

Keunggulan sang pemenang di negeri jamrut khatulistiwa berupa kemegahan pulau-pulau hunian dengan jumlah 17.504 pulau, termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama. 6000 pulau tak berpenghuni, yang pada ahirnya akan di duduki pemilik kuasa (pemenang).

Masih tersedia hidangan para kompetitor yang tersaji dengan beragam hasil laut, sajian itu seluas 93 ribu km dan panjang pantai sekitar 81 ribu km, atau hampir 25% panjang pantai di dunia (dengan hutan bakau terluas di dunia yang berfungsi pencegahan pengikisan oleh air laut atau abrasi pantai), sehingga nantinya sebagai tempat ragam wahana wisata yang dikomersilkan oleh pemenang kapital untuk mempertahankan penguasaan dan memperelok mahkotanya.

Mereka akan dilayani oleh ramahnya babu babu dengan beragam keunikan 740 bangsa dan etnis yang ada di negeri ini, serta keragaman budaya dan keterampilan kelas sosialnya. (Papua saja ada 270 suku dengan menggunakan 583 bahasa dari asal 60 bahasa induk, belum palau yang lain).

Ditambah dengan banyaknya jenis hidangan hasil kekayaan pertambangan berupa: Aluminium, asbes, aspal, batu bara, bauksit, belerang, bijih besi, emas dan perak, fosfet, garam, gas alam, gips, grafit, granit, intan, kapur, mangan, marmer, mika, minyak bumi, pasir kwarsa, perunggu, semen, tembaga, timah, semua ada disini.

Hiasan hunian kapital tersebut diperkokoh bersama ukiran nan menawan dengan bangunan kayu lapis terbesar, dan terbaik di dunia (sekitar 80% ada di pasar dunia) tersedia subur dinegeri ini, namun tiap tahun terus berkurang.

Dari melimpahnya sumberdaya alam (dari permukaan bumi, perut bumi bersama hasil laut yang kaya akan kehidupan) dan tenaga manusia yang produktif, ketimpangan kemiskinan semakin menjulang lebar antara segelintir orang- orang terkaya di negeri ini.

Heran beraduk haru, sehingga terbesit tanya atas semua kondisi kepiluan negeri ini. Kenapa rakyat indonesia penuh kesengsaraan dan kemiskinan...??

Sampai pada akhirnya kita hanya mampu berterimakasih atas penghinaan yang kau lemparkan pada kami rakyat Indonesia.

Ketimpangan kelas sosial, tangga demi tangga penderitaan, kita daki bersama. Jatuh bangun dan terluka sudah biasa kita hadapi atas kesakitan yang telah kau ciptakan.

Semua itu sebuah penghinaan serta cemuhan yang diganti pujian demokrasi ala oligarki finansial. Dan kemuliaan bagi para penikmat dan pencinta kebebasan, namun mencekik rakyat setiap saat, oleh mereka yang berkuasa (kapitalis birokrat).

Penguasa negeri ini berupa badan reaksoner yang mengandalkan monopoli tanah luas di pedesaan (alata yang sangat terbelakang dan tenaga produksinya), dimana hasilnya hanya untuk ekspor kebutuhan industri imprealis. Negeri ini dipaksa sangat bergantung pada impor kapital (investasi dan hutang), yang pada ahirnya jatuh pada balutan jubah Oligarki Finansial (terus bergantung).

Penguasan ini melalui sistem paksa dengan pemerintahan boneka yang mereka bentuk, untuk memudahkan dan menyajikan pemilik kapital yang begitu besar merampok keuntungan di negeri ini.

Tidak usah kaget dan heran jika para pejabat perusahaan ini mampu diupah yang gajinya menjulang mewah dengan rata rata 7,5M. Perusahaan inilah yang beroperasi dengan hasil tiap tahunnya sangat menakjubkan, sepperti. Exxon Mobil ($390,3 bilion/tahun), Shell ($355.8 bilion/tahun), Total S.A ($217.6/tahun), Chevron Corp (214.1 blion/tahun), British Petrolium (292 bilion/tahun), Saudi Aramco (197.9 bilion/tahun), dan Conoco Phillips (187.4 bilion/tahun). (tim agra).

Total perusahaan tersebut pertahun menghasilkan 17 ribu triliun (15 kali lipatnya APBN yang hanya kurang lebih 2000 Triliun tahun 2014). Negeri ini berkisar 60 ladang minyak, 30 diantaranya sudah di eksplorasi atau bahkan bisa bertambah.

Blok CEPU saja mampu memproduksi 200.000 barel/hari, dalam harga kurs US$60. Artinya dalam sebulan mampu menghasilkan 3,6 Triliun atau 43,2 Triliun/tahun.

Seluruh sumberdaya alam di negeri subur yang kaya raya ini akan dapat mencukupi hidup rakyatnya sendiri, apabila kekayaan alam tersebut tidak dikelola dalam sistem produksi lama, sisa feodalisme dan tidak berada dibawah kontrol Imprealisme.

Simbol keindahan dan keagungan negeri yang di ibaratkan jamrut di khatulistiwa hanya menjadi isapan jempol dan angan rakyat Indonesia, dimana rakyat masih berada di garis kemiskinan. "Ibarat sapi mati di padang rumput hijau yang subur. Menjadi bangsa dan budak di negeri sendiri".

Sehingga pada akhirnya airmata menjadi permata. Kebencian menjadi cinta buta pada negeri yang semu.

Inilah hidup di dalam dunia bak sandiwara penuh permainan oleh penguasa kapital, yang ulung dalam kompetisi dan monopoli.

Selamat tinggal kesengsaraan,
Selamat tinggal penderitaan
Terima kasih atas pengalaman yang selama ini terjadi. Kini terbukti, harapan yang terjadi pada cita cita negeri hanyalah mimpi, mimpi bagi mereka yang dibalut dengan nafsu buta individualisme.

Dan semoga ini benar hanyalah mimpi, mimpi yang dirasakan kelas sosial mapan akan ekonomi, yang gemar membela keangkuhan kelas nya.
Serupa boneka mainan kapital, melalui hiburan, ibarat badut seperti Joki-Jeki yang mengemis di negeri- negeri kapital yang berujung menyengsarakan rakyatnya..!!
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Artikel : Kedaulatan yang Hilang"