Headline News
Loading...

Artikel : Pemuda Dulu, Kini, dan Masa Depan

Baca Kabar ini juga . . .

Pemuda Dulu, Kini, dan Masa Depan
oleh : Idham Choliq
Sekretaris Bidang Riset & Pengembangan Keilmuan DPD IMM Jawa Timur



Sebentar lagi kita akan memperingati hari kelahiran Sumpah Pemuda yang ke-88 Tahun. Hari dimana tonggak sejarah yang sangat penting dalam usaha membentuk satu bangsa yang sudah mulai pada awal abad ke-20, adalah suatu pekerjaaan "raksasa", mengingat bahwa negeri ini terdiri dari ribuan pulau, beragam suku bangsa dan agama.

Dalam pekerjaan raksasa yang membentuk "nation" Indonesia yang besar dan modern, Sumpah Pemuda mempunyai "role" yang sangat  besar, karena sumpah pemuda ini telah melakukan apa yang menjadi syarat-syarat suatu nation,seperti wilayah, bahasa, ciri-ciri persamaan kebudayaan untuk seluruh Indonesia. Semuanya dilakukan dan dinyatakan secara sukarela, dengan semangat yang tinggi melawan imperialisme dan kolonialisme Belanda serta rasa kecintaan yang sangat pada tanah air. Seperti yang dikatakan D.N. Aidit, “Ini adalah deklarasi patriotik yang bermutu tinggi”.

Dimulai dari sekelompok pemuda-mahasiswa STOVIA yang membentuk sebuah wadah organisasi Budi Oetomo yang telah melahirkan bangunan kesadaran dan pikiran akan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air melalui pendidikan, inilah yang dikenal sebagai hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908). Kemudian berlanjut pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), dan mengkristal pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Indonesia sudah menjadi satu bangsa yang merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya.

Dari perjalanan sejarah sampai diraihnya kemerdekaan oleh bangsa Indonesia tersebut, kepeloporan pemuda sudah tidak diragukan lagi sumbangsih dan peranannya. Tidak hanya sampai disini, kepeloporan pemuda berlanjut setelah kemerdekaan diraih. Mereka tampil di garda terdepan untuk mempertahankan kemerdekan bangsa Indonesia yang akan diambil oleh bangsa Imperialis.

Fakta sejarah tersebut menunjukakan bahwa pemuda dahulu secara amaliyah dan "spontanitas" melibatkan diri mereka dengan sukalera dan membentuk organisasi-organisasi sebagai alat dalam membangun kesadaran kebangsaan dan terlepas dari sebuah penindasan dan keterjajahan oleh bangsa imperialis.

Begitu pentingnya peran organisasi pada saat itu, sehingga para pemuda revolusioner dulu melahirkan beragam oganisasi dengan coraknya masing-masing. Syarikat Prijaji (1906),  Boedi Oetomo (1908), Syarikat Dagang Islamijah (1909) yang berubah menjadi Syarikat Islam (1912), Muhammadiyah (1912), dan berbagai organisasi-organisasi lain muncul pada masa itu. Namun, sekali lagi Sumpah Pemuda menjadi peristiwa penting tentang makna persatuan yang melampui kepetingan golongan atau kelompok, suku, ideologi, dan agama tertentu demi terwujudnya bangsa yang merdeka.

Semangat patriotik dan anti imprealisme pemuda menjadi karakter sosial pada saat itu. Sebagai Contoh, kita dapatkan pada sosok Pemuda Soekarno (Bung Karno) yang sangat patrotik dan anti terhadap imprealisme. Bahkan saat menjabat sebagai presiden, Bung Karno tetap teguh pada pendirian dan keyakinannya tersebut. Itulah mengapa bangsa Indonesia dulu dianggap sebagai musuh, bahkan ancaman bagi bangsa Imperialis.

Sekarang kita dihadapkan pada persoalan yang kompleks, dimana kondisi organisasi kepemudaan, maupun pemuda secara umum tengah mengalami kebingungan dan kebuntuan dalam wacana dan gerakannya. Ditambah lagi dengan terpolarisasinya gerakan pemuda membuat persoalan ini  semakin meruncing.

Terpolarisasinya gerakan pemuda Indoensia secara ilutif dibentuk oleh "proyek" masa lalu (orba Soeharto dan pengaruh ideologi kapitalisme-neoliberalisme yang mengglobal) yang masih berkuasa.
Pengaruh rezim orba Soeharto terhadap peran organisasi kepemudaan atau mahasiswa tidak hanya dibuat subordinasi tetapi juga dilumpuhkan bahkan dimatikan. Beragam upaya, tindakan, dan kebijakan yang dilakukan rezim Soeharto sangat mudah kita dapati dari literasi berbagai tulisan. Namun secara singkat disini bahwa meski berbagai cara yang dilakukan oleh rezim orde baru Soeharto untuk melumpuhkan peran pemuda-mahasiswa, tetap saja  peran pemuda-mahasiswa tak terelakkan dalam melengserkan Soeharto. Meskipun warisan orba soeharto masih sangat terasa dalam praktek keseharian.

Pengaruh ideologi kapitalisme-neoliberalisme global secara iluif tidak hanya berpengaruh pada organisasi pemuda yang tidak berarah, namun secara umum juga berpengaruh pada gaya hidup pemuda. Ideologi ini sangat cerdik mempropagandakan tentang ideologinya. Yang nampak ialah bagaimana ideologi ini mencitrakan kehidupan yang duniawi, fisik, pemujaan terdahap penampilan, kesenanagan sesaat, dan beragam "image" yang diciptakannya. Jika ditarik benang merahnya, bahwa lunturnya semangat berorganisasi pemuda-mahasiswa dikarenakan terperangkapnya pemuda-mahasiswa tersebut dalam logika kapitalisme. Pemuda-Mahasiswa mengambil jalan kesenangan sesaat, pemujaan terhadap fisik, dsb adalah persoalan pemuda-mahasiswa saat ini.

Pun juga dengan organisasi pemuda-mahasiswa seringkali terperangkap dan menjadi pelayan bagi kaum kapitalisme hanya demi dana atau uang. Kehidupan seperti inilah bukan hanya merusak sendi-sendi kehidupan pemuda-mahasiswa namun juga merubah karakter gerakan pemuda-mahasiswa.

Memperingati Sumpah Pemuda menjadi penting bagi kita untuk memulihkan dan memupus episode yang rumit ini. Momentum sumpah pemuda mengingatkan kepada kita bahwa bangsa kita sejatinya anti imprealisme. Bangsa kita sadar betul bahwa imprealisme (kapitalisme itu sendiri) tidak akan memberikan keberkahan dan keadilan sosial, justru malah sebaliknya. Momentum sumpah pemuda secara material mengingatkan kepada kita bahwa dengan adanya peran pemuda bangsa, kita dapat memutus rantai atas warisan dosa-dosa masa lalu dan keluar dari pengaruh imprealisme (kapitalisme) global. Inilah yang kita sebut sebagai pemuda masa depan. Pemuda masa depan akan mengerti masalah yang sedang dihadapinya sekarang ini dan mengerti cara untuk mengatasi atau keluar dari permasalahan tersebut.

Che Guevara pada 1965 menulis sebuah artikel berjudul “Sosialisme dan Masyarakat Kuba”. Dalam artikel tersebut, Che meletakkan pemuda sebagai pelopor dalam masyarakat untuk membentuk manusia-manusia baru. Pemuda sebagai individu yang terdidik dari organisasi dan kepeloporannya melampui massa. Dengan kata lain, jalan menuju sosialisme Kuba menurut Che berada ditangan pemuda pelopor revolusioner.

Akhirnya bukan tidak mungkin atau suatu utopis pemuda yang terdidik dalam sebuah organisasi dapat memulihkan keadaan sosial yang rumit ini dan melahirkan manusia-manusia baru. Pemuda-pemuda pelopor akan menjadikan bangsa Indonesia lebih demoktaris dan anti imprealis.

Yang lebih penting adalah bagaimana pemuda-mahasiswa terus memperbaharui pengetahuan dan analisisnya.Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingatkan pembaca pada pesan Pramoedya Ananta Toer (Pram) untuk Angkatan Muda “Jangalah belagak tidak mengerti, kalian cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan. Lakukanlah yang terbaik untuk Indonesia dan untuk dirimu sendiri. Jangan belagak bodoh, kalian cukup pandai, kalian cukup punya keberanian, kalian cukup punya keahlian untuk mempersatukan semua angkatan muda. Bergerak terus sampai tujuan dan Selamat!!!”
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Artikel : Pemuda Dulu, Kini, dan Masa Depan"