Headline News
Loading...

Artikel : Pemuda (HSP 88 2016)

Baca Kabar ini juga . . .

PEMUDA
oleh : Baikuni Alshafa
Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur


Wahai Pemuda, sebuah harapan terpatri dipundakmu untuk tanah air yang surut dihisap pemangsa. Pemuda dari jutaan warna keindahan alam yang dimiliki oleh sejuta keragaman bangsa, bersatu di ikat oleh Indonesia.

Bersama serumpun nasib kehidupan rakyat dalam rasa nisata, kekejian, ditindas oleh sejuta kemunafikan penguasa. Pemuda tentangmu di hari depan yang suram. Dihari esok yang mungkin tak bersahabat dengan akal dan perasaanmu,

Wahai pemuda..
Ketika dunia begitu sangat memuakkan, dihuni oleh sekumpulan manusia- manusia murka, penumpuk kekayaan, diatas penderitaan kaum yang dinistakan, dan dianggapnya hina.

Masihkah kalian mengaku memiliki modal dan identitas perubahan..??
Pemuda... Sejarah mencatat. Katanya kalian, memiliki peranan dalam perubahan bangsa. Namun dimanakah kalian bersbunyi saat ini..??
Ketika kebiadaban dan kekejian begitu nyata melenggang dinegeri ini, merampas kedaulatan ekonomi rakyat..!!
Pemuda... Benarkah kalian yang memiliki semangat, dengan otot kawat balung besi..??
Dimana kalian menggunakan kekuatan itu??


Jika kalian hanya melihat dilayar televisi, bahwa saudara-saudara kita disana dirampas tanahnya, rumah- rumah mereka digusur, nelayan pindah alih daya, karena banyak bibir pantai direklamasi. Sehingga kehidupan mereka raib dalam sekejap.

Pemuda..Kalian penganyam pendidikan tinggi, kalian yang mengaku intelektual. Dimana kalian abdikan dan gunakan ilmumu..??
Nyatanya, rakyat masih mudah dibohongi dan tertipu oleh janji- janji kepalsuan penguasa, yang ujungnya hanya mengabdi pada pemilik kuasa ekonomi.

Pemuda..Benarkah, kalian intelektual mengabdi terhadap rakyat??
Jika, jutaan rakyat masih tak sadar, bahwa negeri ini telah sakit akut dan perlu diamputasi keakar akar nya. Dan penguasa pemilik jabatan, masih nyaman dengan kebohongan dan kepalsuan, atas sistem yang dijalankan masih tunduk dihadapan korporasi internasional.


Pemuda..dimana keberpihakan kalian..??
Ketika pembantaian tak sanggup lagi dibungkam oleh perlindungan undang-undang HAM, terkadang kadang kalian teriakkan, diforum seminar, loka karya, hingga long mach dijalan raya.
Lihatlah negara ini hanya sekumpulan manusia rakus, yang tak akan pernah bosan dan kasian, terhadap penderitaan rakyat.

Karena bagi meraka penguasa akomulasi ekonomi, melalui kalianlah pemuda- pemudi yang membuat mereka bertahan hingga ratusan tahun lamanya di negeri ini. Dengan cara menina bobokan, serta menumpulkan otak-otak kalian, melalui hiburan- hiburan yang sering di sebut HEDONISME.

Pemuda..dimana teriakan yang dulu lantang melawan penjajahan, semangat juangmu bergelora demi kedaulatan negeri ini..??
Namun kini teriakan itu hilang, ditelan ancaman ekonomi yang menyerang panik, meringkih hingga mengemis dimeja- meja tuan, demi mencari pertahanan ekonomi yang hanya sekedar untuk hidup.
Sedangkan rakyat di saentro negeri ini tak tersentuh dan disadari, masih banyak menjerit kesakitan hingga mati dipangkuan bumi pertiwi, tanpa perawatan, pelayanan gratis dan mudah. Serta susahnya layanan kesehatan bagi rakyat melalui rumah sakit milik negara.

Pemuda.. Bukalah mata indra kalian, betapa tersakiti nya rakyat, atas tanah air dan bangsa yang di puja-puja oleh segenap rakyat. Namun yanga ada hanyalah semangat simbolisan yang kita temui di hari hari besar nasional.

Pemuda..Bukalah mata hati kalian, tentang kemiskinan. Lihatlah pengangguran, lihat jumlah rakyat kelaparan. Yang memang benar- benar dipelihara oleh negara, agar tetap miskin dan kelaparan.
Sedangkan hutang negara semakin menumpuk, dan sumber aset negara tergadaikan. Sehingga penjarahan berkedok privatisasi menjadi sumber investasi dinegari ini.

Pemuda.. Apakah kalian tidak melihat, bahwa pemerintahan yang mereka pimpin saat ini, masih penuh harapan palsu, yang menggantungkan sejuta harapan tentang kesejahteraan rakyat.
Pemuda..apakah kalian tumpul kesadaran, bahwa sumber daya alam yang kaya ini, semakin habis tereksplorasi oleh tangan-tangan besi industri negara lain.

Sadarlah..pemuda-pemudi, saudaraku putra putri negeri..Kemabali turun dan teriakkan lantang semangat persatuan bersama gelanggang rakyat..!!
Karena, ketika kita berdiam diri, tidak peduli dan sibuk mengurusi perut sendiri..Maka, pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab sudah..!!
Bahwa, kalian memang sudah mati..!!

Karena hanya hidup, tak ubahnya tengkorak berjalan, yang masih tercerai berai, bersama watak individualisme.

Rakyat Indonesia telah terlalu lama berkubang dalam kemiskinan yang diciptakan terbelakang. Bahkan negeri ini hanya menjadi pasar, lapak besar negara korporasi, menjadi gelombang komoditi, yang ahirnya konsumeristik menjadi budaya pemuda- pemudi.
Wahai pemuda..!!

Apakah kalian tidak ingin berteriak sekeras-kerasnya..??
Karena, teriakan saat ini tak sanggup menghentikan tangis kelaparan yang didera rakyat yang tergusur dari hunian dari tanah mereka.


Pemuda..jika kalian mau menangis, menangis lah sejadi-jadinya..!! Karena kita tak sanggup menghentikan perampokan dan pembantaian terhadap rakyat di negeri ini.
Pemuda..

Tidak kah sedetak jantung, yang kau hirup udara segar dan kaya ini, ingin mengobati anak- anak negeri yang terluka..??
Pemuda..

Tak adakah keinginan untuk mengobati dan membebaskan setiap rakyat yang teraniaya oleh penguasa yang menghisap..??

Apakah kita tidak ingin bangkit dari ketidak berdayaan ini, merajut kepedulian bersama, bersatu merebut kedaulatan ekonomi politik..??

Dan jangan lah mengaku pemuda. Jika pemuda- pemudi masih tidak peduli terhadap nasib rakyat, tanah air dan bangsa Indonesia.

Benarkah kita akan melukiskan sejarah kembali yang pernah dijanjikan oleh pemuda. Atas sumpah serapah yang pernah dipekikkan 28 Oktober 1928 dalam sejarah pemuda..?? Yang tetap menyayat begitu lantang meneriakkan sumpah dari segala penjuru nusantara, walau hanya sekedar melalui momentum 28 Oktober. Sumpah itu disebut..Sumpah Pemuda...

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia..!!
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia..!!
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia..!!

Namun kenyataan nya..pemuda-pemudi masih begitu nyaman hidup di bawah bendera warna- warni ideologi yang menurutnya mengabdi terhadap rakyat.

Masihkah pemuda berada di garis depan perlawanan, merebut tanah air..??

Masihkah ada di gelanggang terdepan untuk menyatakan perang melawan penidasan terhadap bangsa indonesia..??

Masihkah bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan..? Yang nyatanya bahasa kita menjadi bahasa terahir dimeja tuan, penguasa ekonomi.

Masihkah hanya sejarah semangat pemuda dulu yang ditorehkan..?? Yang hingga kini mengajarkan kita tentang arti penting perjuangan. Perjuangan untuk melanjutkan semangt merebut kedaulatan bangsa.


Rakyat Indonesia yang sejahtera, masih menjadi cita- cita disetiap momentum perlawanan. Melalui kelepar bendera persatuan.

Masihkah kita sebagai pemuda, harus tunduk ditikam semangat kepalsuan..!!
#SumpahPemuda28Oktober2016
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Artikel : Pemuda (HSP 88 2016)"