Headline News
Loading...

SARA dan Politik

Baca Kabar ini juga . . .

SARA Dan Politik
oleh : Baikuni Alshafa
Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur


Isu SARA belakangan ini, begitu renyah digoreng oleh sekelompok orang reaksioner, untuk melegitimasi politik nya. Hal tersebut akan lebih berkubang miring, ketika masih banyak memandang SARA menjadi sah-sah saja, dijadikan isu dalam sistem demokrasi ala borjuasi. Namun tidak juga mengamini yang mengandung tindakan fitnah, kekerasan dan intimidasi, sebagai pondasinya.

SARA memang suatu perbedaan, namun kita harus berhati hati dengan kenyataan yang ramai saat ini diperdebatkan, menjadi sebuah gelombang permasalahan dalam politik pemilu kada, dari kelompok yang terselabut kepentingan.

Karena bukan hanya sekedar perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Bagi saya, SARA suatu hal yang sangat subyektif-cauvinis. Dari subyektifisme tersebut, memiliki potensi begitu besar yang mengarah pada konflik.

Namun, setiap penguasa yang memegang kendali dalam memanfaatkan SARA, terus berkelidan untuk dijadikan alat, dalam menjalankan perang gagasan disitus media. Dimana tidak sedikit menggiring terhadap konflik horizon.

Baru beberapa hari, saya melihat para tokoh yang begitu popular. Bung Deny JA namanya, sering juga dikenal pendiri LSI. Bagi saya sangat naif, ketika tulisan opini yang dituangkan, dalam menyoroti persoalan HAM dan pesta demokrasi liberal. (Opini yang bertemakan "mui, ahok dan pilpres Amerika").

Salah satu bagian dalam tulisan nya begini. Dua kubu yang sama sama ahli agama kristen, sama sama ingin mendasarkan diri pada injil, bersikap bertentangan soal rekomendasi pilihan presiden. Semuanya oke saja dan sah saja. Sistem demokrasi membolehkan masing masing kelompok agama bukan hanya membuat pernyataan, tapi mengkampanyekan.

Demikian itu, entah disengaja atau memang tidak sadar. Sehingga SARA menjadi pilihan, dan dianggap sah- sah saja, untuk diterapkan di negeri demokrasi.

Pandangan tersebut, dititik tolakkan keinduk Imprealis yang begitu sering menggoreng SARA, sebagai contoh di Amerika. Dimana Amerika sendiri, dalam menyikapi persoalan SARA masih tetap menjadi isu seksi dan renyah, untuk disulut menjadi konflik horizon. Semisal, antara kulit hitam perseteruan kulit putih, antara islam yang masih dianggap islamopobia. Namun karena demi mengagungkan demokrasi ala borjuasi, seperti di Indonesia. Isu SARA diperbolehkan dan bisa dijalankan.

Jika bung Deny JA ini sadar, bahwa SARA bukan hanya sekedar kebebasan demokarasi liberal ala borjuasi. Seharusnya tidak menghendaki secara tegas. Dan tidak berkompromi dengan persoalan SARA, yang sebenarnya sudah disadari dalam tulisannya, bahwa hal itu sifatnya sangat subyektif.

Persoalan SARA dan HAM, banyak kelompok yang mengambil andil untuk melegitimasi kepentingan yang mengarah kekuasaan, melalui kekuatan ekonomi borjuasi. Semua itu sangat renyah dan mudah disisipi, melalui isu SARA yang dimarketingi. Karena SARA dalam soal hukum bisa elastis, ibarat karet, bisa tarik ulur dan dipelintir- pelintir, sesuai kepentingan pemesannya.

Hal demikian, bagi saya bukan soal SARA wajar dan diperbolehkan, tapi lebih kepersoalan ekonomi alias perut. Jika, soal ekonomi atau perut sebagai pondasi rakyat untuk memilih pemimpin dalam pemerintahan. Maka, secara objektif isu SARA tidak layak dijadikan acuan, di perbolehkan dan menerapkan dalam kontektasi pemilu demokrasi liberal di negeri ini.

Karena rakyat memilih peminpin, bukan soal SARA dan perbedaan budaya. Tapi, berharap mendapatkan pemimpin adil dalam mengelola kedaulatan ekonomi. Yang tujuannya selaras dengan "kesejahteraan bagi rakyat"..!!

Jika setiap calon pemimpin dalam pilkada atau pemilu, dibolehkan menggunakan SARA dalam kampanye dan propaganda. Maka bisa saya pastikan tidak akan pernah ada yang namanya tenggangrasa dan gotong royong, serta hidup berdampingan, adil dan sejahtera. Yang ada, hanyalah mimpi, penuh kemunafikan diruang Ide dan konsepsi.

Karena, pemenang dalam kontektasi demokrasi liberal ala borjuasi ini, akan meligitimasi akomulasi Ekonomi dan kekayaan, melalui isu SARA yang bisa disulut setiap saat, kapanpun mereka suka.

Maka SARA, serupa perang dingin dan menjadi bola salju, pada titik kulminatinya, akan menjadi konflik berdarah- darah. Masyarakat hanya diberi pilihan, dengan menunggu pecahnya Krisis Ekonimi-Politik. Sebagai penyulut untuk memulai konflik..!!
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "SARA dan Politik"