Headline News
Loading...

Refleksi Hari Pahlawan, Ki Bagus Hadikusumo dan Akhlak Seorang Pemimpin

Baca Kabar ini juga . . .

Foto : (Ilustrasi) Ki Bagus Hadikusumo


IMMJATIM.ORG - Memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November,  Indonesia memiliki salah satu Pahlawan Nasional dari keluarga besar Muhammadiyah yakni Ki Bagus Hadikusumo, yang juga Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Gunawan Budiyanto, cucu dari Ki Bagus Hadikusumo mengatakan bahwa Ki Bagus dalam hidupnya sangat memegang prinsip menjadikan Islam sebagai dasar akhlak pemimpin. Prinsip akidah yang dipegang oleh Ki Bagus Hadikusumo sangatlah kuat, namun yang disayangkan terdapat beberapa artikel dan juga pandangan masyarakat Indonesia yang salah terkait prinsip Ki Bagus Hadikusumo tersebut.

Menurut Gunawan, seharusnya Islam dijadikan sebagai dasar akhlak pemimpin, namun anggapan yang beredar di masyarakat yaitu Ki Bagus ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Hal tersebut menurutnya harus dikoreksi oleh masyarakat, terkait anggapan prinsip pemikiran Ki Bagus tersebut.

Gunawan memaparkan bukti pemikiran Ki Bagus terkait prinsip menjadikan Islam sebagai dasar akhlak pemimpin yakni melalui tulisan-tulisan Ki Bagus terkait hal tersebut.

Karena, lanjut Gunawan pada dasarnya pemikiran menjadikan Islam sebagai akhlak pemimpin dapat dilakukan oleh masyarakat muslim dalam menjalankan kehidupannya.

“Pemikiran masyarakat terkait prinsip Ki Bagus yang menjadikan Islam sebagai dasar akhlak pemimpin perlu dikoreksi, karena masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa maksud dari prinsip Ki Bagus tersebut yaitu berkeinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam itu sangat salah, untuk membuktikan prinsip Ki Bagus tersebut saya bersedia menunjukkan tulisan-tulisan Ki Bagus terkait prinsip tersebut untuk meluruskannya di masyarakat,” ujar Gunawan.

Terlepas dari dasar prinsip pemikiran Ki Bagus Hadikusumo tersebut dalam menjadikan Islam sebagai dasar akhlak pemimpin, Ki Bagus Hadikusumo telah banyak berperan dalam Kemerdekaan RI, dan juga kemajuan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang pernah dipimpinnya.

Keterlibatan Ki Bagus Hadikusumo pada sidang BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal  29 April 1945 dijelaskan Gunawan, pada saat itu terdapat masalah dalam draft pancasila, saat itu sila ketuhananan masih berada pada sila ke lima dalam pancasila, kemudian untuk menggodok kembali isi pancasila tersebut Ir. Soekarno menyerakan perancangan draft pancasila tersebut kepada tim 9, yang salah satu anggotanya adalah Ki Bagus.

“Kemudian tim 9 bekerja dalam merancang draft pancasila dengan menghasilkan rumusan pancasila, salah satunya yaitu memindahkan asas ketuhanan menjadi sila pertama, dengan isinya saat itu yaitu ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” kata dia.

Lanjut Gunawan, kemudian Bung Hatta kembali memanggil Ki Bagus Hadikusumo sebagai salah satu anggota tim 9 untuk mencoba melihat kembali isi pasal terkait ketuhanan tersebut, karena Bung Hatta merasa pada sila kelima tersebut terkait Ketuhanan belum mencerminkan kesatuan negara Indonesia. Selanjutnya terjadi perubahan pada sila ketuhanan tersebut menjadi Ketuhanan Yang Mahaesa, sebelumnya sempat terjadi negosiasi alot dalam keputusan tersebut, karena Ki Bagus bersikukuh tetap mempertahankan isi sila tersebut.

Dan akhirnya berdasarkan keputusan tim 9 melalui negosiasi panjang, isi sila pertama tersebut menjadi Ketuhanan Yang Masa Esa. “Selain sebagai perancang rumusan pancasila, Ki Bagus juga turut berperan dalam penyusunan pembukaan UU dasar 1945, sebelumnya ajuan draft pembukaan UUD 1945 yang diajukan Ki Bagus yaitu Mukaddimah UUD 1945, karena pemilihan kata Mukaddimah terlalu ke arab-araban kemudian digantikan dan diputuskan menjadi pembukaan UUD 1945,” tambah Gunawan.

Untuk menghormati jasa-jasa Ki Bagus Hadikusumo sebagai pejuang Muhammadiyah, dan pejuang Indonesia, di beberapa bangunan gedung institusi pendidikan milik Muhammadiyah diberi nama Ki Bagus Hadikusumo, seperti halnya bangunan yang ada di UMY. “Sebagai bentuk penghargaan kepada Ki Bagus Hadikusumo, UMY turut memberikan nama gedung yang ada di UMY dengan nama Ki Bagus Hadi Kusumo,” tutur Gunawan.

Gunawan mengajak para generasi muda Indonesia untuk memperingati Hari Pahlawan jangan hanya dengan ritual semata, melainkan ada moral dan bukti nyata. “Sebagai pemuda bangsa untuk dapat menerapkan pemikiran-pemikiran dan semangat juang para pahlawan dalam memajukan bangsa,” tutup Gunawan.

Ki Bagus Hadikusumo wafat di usia 64 tahun. Pada 10 November 2015 lalu bertepatan dengan Hari Pahlawan, ia diberi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia oleh Presiden Joko Widodo.

Sumber :
www.muhammadiyah.or.id
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Refleksi Hari Pahlawan, Ki Bagus Hadikusumo dan Akhlak Seorang Pemimpin"