Headline News
Loading...

Sekilas Refleksi Gerakan Mahasiswa dan Politiknya di Kampus

Baca Kabar ini juga . . .

oleh: Rudi Suhartono
Ketua Bidang Kader PC IMM Malang Raya 2016-2017

SAYA yakin, mahasiswa yang berkecimpung dalam dunia aktivis telah banyak membaca sejarah pergerakan mahasiswa baik pada masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru, maupun reformasi. Sejarah pun telah mencatat banyak kejayaan yang ditorehkan oleh mahasiswa di masa lalu, mulai dari generasi 1928 yang melahirkan Soempah Pemoeda, Gerakan Mahasiswa 45, Angkatan 66 Orde Baru, Gerakan Mahasiswa 77/78, dan peristiwa paling heroik gerakan mahasiswa 98 yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto.

Lalu, kejayaan apa yang ditoreh mahasiswa pascareformasi? Kalau dulu musuhnya para penjajah, para pemimpin yang otoriter, para penguasa yang congkak, dan para aparat yang kejam. Kita memang tidak bisa memungkiri mahasiswa hari ini berbeda dengan mahasiswa kala itu. Setiap zaman punya cerita sendiri. Itulah mahasiswa.

Banyak yang bilang, mahasiswa hari ini memang sulit dimengerti. Sekarang demo, besok entah kemana. Pascareformasi 98, setidaknya iklim perubahan-perubahan memang sangat terasa. Intel-intel tak lagi hadir dalam setiap diskusi mahasiswa. Militer pun tak lagi masuk kampus. Sekilas rasa ketakutan itu selintas hilang. Kita sebagai mahasiswa pun pastinya bisa bernapas lega. Mahasiswa sekarang bebas menyuarakan pendapatnya, tanpa harus menerima intimidasi langsung dari aparat keamanan.

Tentu, keadaan ini dimanfaatkan mahasiswa dalam proses pengembangan diri semaksimal mungkin. Seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, mahasiswa banyak terbantu. Lewat gawai di tangan, segalanya bisa dilakukan dengan cepat.

Namun, bergantinya waktu dan rezim, kenyataan yang terjadi sekarang, kampus (kayaknya) miskin intelektual. Bertambahnya mahasiswa dan perguruan tinggi, berapakah yang mampu membawa roda perubahan? Semua akademis berjalan pada alur-alur yang tersedia. Sedikit mahasiswa yang mau mendobrak ketidakadilan sebagai bentuk pembaruan kehidupan. Mahasiswa dirundung rasa takut. Takut ini takut itu.

Ketakutan itu lalu menjelma menjadi titik acuh bagi tindak-tanduk mahasiswa. Menghindar dari kemungkinan terburuk, mahasiswa memilih zona aman, (mungkin) bisa dikatakan tidak lagi ada gregetnya.

Artinya, pola-pola struktural tergambar dalam situasi macam ini. Mereka yang berada pada pucuk tertinggi memegang kendali permainan. Birokrasi kampus dengan regulasinya harus kita taati. Imbas pada mahasiswa, segala macam hal yang tak sejalan dengan keinginan birokrasi akan diganjal. Mahasiswa harus manut apa kata regulasi yang dibuat petinggi kampus.

Inilah satu keadaan yang menunjukkan reformasi belum berjalan sepenuhnya Yakni menjauhkan mahasiswa dari ranah politik, menjelma di Indonesia lewat kebijakan NKK/BKK.

Mahasiswa praktis dilarang berpolitik. Kebebasan berpikir seperti kaum intelektual lainnya terkekang. Tak ada lagi alasan untuk melakukan gerakan. Mahasiswa harus kembali ke kampus dan belajar supaya cepat lulus. Mahasiswa harus mengikuti selera para pemangku jabatan di kampus.

Aktivitas mahasiswa terus dibatasi, diatur bahkan digenjot agar cepat selesai dengan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi. Kemahasiswaan sebatas pada minat, bakat, kerohanian dan penalaran saja. Jika kita sadar kebijakan yang terjadi di kampus ini telah menjauhkan mahasiswa terhadap realitas di sekitarnya. Dampaknya bisa terlihat sekarang, mahasiswa tampil sebagai borjuis-borjuis baru, jauh dari masyarakat kecil yang selalu dihadapkan pada masalah-masalah sosial.

Polesan itu tampak dalam acara-acara yang diselenggarakan mahasiswa yang amat-teramat jauh dampaknya bagi masyarakat. Mahasiswa seringkali mati-matian hanya untuk mendatangkan artis hiburan ketimbang advokasi di daerah konflik. Sekalinya terjun ke masyarakat hanya sebatas bakti sosial, itu pun diwujudkan dalam bentuk kuliah kerja nyata. Dan sedihnya, mahasiswa selalu beralasan bahwa apa yang dilakukan itu bagian dari study oriented.

Belum lagi banyaknya tekanan dari luar. Mahasiswa hari ini mulai ikut-ikutan tampil bak sebuah politikus, berani melakukan transaksi di belakang panggung. Kecurangan-kecurangan selalu hadir dalam setiap aksi, dan idealisme hanya sebatas topeng. Pertarungan memperebutkan kursi presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ataupun Senat Mahasiswa, dan lembaga kampus lainnya, sama panasnya seperti pilkada yang sarat akan intrik-intrik licik.

Semua merasa seperti orang besar, mencoba menegakkan kembali strukturalisme di dalam organisasi masing-masing. Padahal, perekrutan kader tak lebih dari upaya menambah kantung-kantung suara semata. Sekalipun menghidupkan budaya intelektual dan gerakan, paling hanya segelintir saja. Sisanya hanya dimanfaatkan untuk meraup suara untuk pemenangan Pemilihan Umum Raya (Pemira).

Para senior pun seringkali hanya tampil one man show, tanpa melibatkan banyak pihak. Buah-buah semacam ini, pantaslah tak bisa mengembang mekar di masyarakat. Mental-mental yang terbangun mirip penguasa, beragam intrik dan cara supaya orang lain terjegal.

Mari kita refleksikan. Memimpikan perubahan besar tanpa tindakan nyata merupakan suatu hal yang tidak mungkin, Mahasiswa haruslah bergerak mengembalikan kekuatannya sehingga bisa bergerak bersama rakyat, Mahasiswa harus mengabdikan dirinya ke Rakyat bukan pencari jabatan.

Mahasiswa perlu belajar sejarah lagi agar malu dengan yang kita sedang lakoni sekarang. Ruang-ruang diskusi harus menyala-menyala di kampus agar kita tahu kepada siapa sebenarnya berpihak. Dan sebagai makhluk intelektual, kita tahu memanfaatkan kekuatan politik.

Silakan saja memilih haluan paling keras, kiri, fundamental sekalipun, biar diskursus ramai di ranah akademik ini. Dan tidak ada yang melarang kita untuk jadi apapun kecuali jadi penindas baru karena tujuan kita jelas yakni melenyapkan segala bentuk penindasan. Semua itu bisa dilakukan hanya dengan bergandengan tangan dengan Rakyat.
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Sekilas Refleksi Gerakan Mahasiswa dan Politiknya di Kampus"