Headline News
Loading...

Tentang Subjektivisme Sebagai Penyakit Kronis

Baca Kabar ini juga . . .

oleh: Rudi Suhartono
Ketua Bidang Kader PC IMM Malang Raya 2016-2017

KAWAN-kawan yang dicintai oleh massa. Sudah cukup panjang perjalanan kita dalam berjuang bersama. Tak terbesit dari kita untuk menyatakan lelah dalam perjuangan ini. Tapi tentu, secara khusus, ada pula beberapa kawan yang terputus di tengah jalan, dan tidak melanjutkan arena perjuangan ini. Hal ini bisa terjadi, oleh karena kehendak subjektif dari setiap individu dengan berbagai alasan taktis maupun alasan yang sifatnya prinsipil dari setiap individu. Dari sinilah arti penting bahwa kita mesti membuka perhatian yang lebih dan memeriksa kenyataan tersebut bukan menjadi hal yang sepele.

Ada hal-hal yang luput dari diri kita. Di samping suara-suara yang begitu tinggi kita lantangkan pada musuh-musuh kita, banyak diskusi-diskusi dengan hal-hal yang besar (tolak komersialisasi pendidikan, dan lain-lain.), vokal-vokal yang sangat nyaring dalam berdebat (anti imperialisme, feodalisme dan kapitalis birokrat) dan gairah militansi dalam demonstrasi. Kita terlampau asyik dengan itu tanpa pernah tahu kita meninggalkan hal kecil yang sebenarnya jika ditelantarkan akan menjadi sakit yang sangat kronis pada diri kita semua.

Di tengah lapang kita bak seperti macan yang ganas, yang selalu geram untuk menerkam musuh-musuh kita. Tapi ketika kembali di dalam sangkar, beberapa di antara kita mengidap penyakit, menular, dan bahkan yang terparah dapat memecah belah kekuatan dan merusak organisasi.

Oleh karenanya dalam situasi dan ruang tertentu, musuh terbesar kita tidak hanya terletak pada borjuasi komprador, tuan tanah, beserta imperialisme. Melainkan musuh terbesar kita sejatinya ada di dalam diri kita sendiri. Menyelinap di sudut-sudut diri kita, mengendap-endap, kadang tidak tampak. namun dapat mematikan diri kita, organisasi, dan perjuangan. Apakah musuh yang sekaligus penyakit dari kita itu? Ia adalah subjektivisme.

Subjektivisme sebenarnya suatu masalah yang tidak asing dalam dunia gerakan. Bahkan sejarah gerakan Internasional pun tidak sedikit dihinggap oleh penyakit ini yang mempengaruhi arus sejarah peradaban masyarakat, serta narasi-narasi besar terkait kegagalan gerakan massa di beberapa Negara bagian di dunia. Oleh karenanya penting kiranya untuk kita bisa bersama-sama memahami persoalan subjektivisme ini sebagai pangkal rontoknya gerakan perjuangan dan individu-individu dalam tubuh organisasi.

Salah satu ciri penting diri kita dalam suatu gerakan dengan hari depan yang anti imperialisme dan hancurnya feodalisme di dalam negeri adalah dengan memegang disiplin yang kuat di tiga lapangan penting; yakni ideologi, politik, dan organisasi. Karena banyak dari kalangan kita, mahasiswa, yang berkedudukan sebagai borjuis kecil gagal menyatukan persoalan ini secara utuh. Keterbatasan teori serta mental dari seorang borjuis kecil bukanlah hal yang aneh dikarenakan oleh pendidikan, propaganda, serta gaya hidup yang rutin dalam tradisi sistem nilai-nilai borjuis.

Banyak dari kita yang asyik dengan teorinya sendiri-sendiri, meski teori itu progresif atau mungkin disebut revolusioner. Tapi  hanya dikonsumsi secara individual dan dipendam sebagai teori belaka. Tanpa diobjektifkan bersama kolektif dan massa, serta tidak diuji dalam praktik. Penyakit inilah yang disebut sebagai orang yang gemar membual dengan wacana di dalam tataran teori atau ideologi, yang belum tentu sesuai dengan situasi objektifnya. Begitu pun dalam ranah politik, banyak di antara aktivis sosial yang keranjingan dengan aktivisme kampus atau aktivisme organisasi di jalanan tapi tanpa perspektif politik dan garis perjuangan yang tegas dan terang. Kadang secara tidak sadar orientasinya adalah heroisme yang tinggi dan menunjukkan watak asli dari borjuis kecilnya. Inilah kesalahan di bidang praktik.

Penting kita untuk dapat menyelaraskan teori dan praktik dalam satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Karena rumusan dari teori yang tepat akan diturunkan dalam garis politik (program perjuangan dan rencana aksi) sebagai pedoman jalannya organisasi dan tindakan-tindakan taktis organisasi. Semua ini menuntut dalam kesatuan pandangan dan disiplin ketat dalam tindakan. Karena, lemah di salah satu bidang, tidak bisa lepas dari lemahnya di bidang yang lain. Suatu pandangan atau tindakan liberal dalam organisasi, tidak bisa lepas pula dari kelemahan teoretis atau ideologis. Seperti sikap oportunisme politik bisa terjadi karena kelemahan teori yang kita miliki serta kesalahan kelonggaran organisasi. Hal-hal seperti inilah yang menjadi perhatian kita sekarang, dalam membangun tradisi gerakan massa yang kuat serta menghancurkan penyakit dan kesalahan-kesalahan subjektivisme. Jika kita memegang pisau analisa yang benar sebagai metode ilmiah untuk membongkar  cara berpikir dan bertindak yang keliru serta menangkap realitas yang objektif. Tentunya kita dapat memblejeti kekeliruan subjektivisme di tiga lapangan (ideologi, politik, dan organisasi).

Subjektivisme di Bidang Ideologi

Dogmatisme, secara umum dogmatisme adalah pandangan yang membuta tanpa dasar kebenaran ilmiah yang sesuai dengan kenyataan objektif. Namun pandangan ini menghilangkan arti penting praktik dalam menguji ide-ide yang diterimanya. Seseorang cenderung memahami secara beku dalam menerima suatu pengertian, menganggap suatu pandangan sebagai barang jadi dan terberi. Dalam lingkaran kita sebagai mahasiswa marak sekali terjadi, terlebih lagi kedudukan kita sebagai aktivis borjuis kecil. Mereka yang terlampau banyak membaca teori, tetapi kurang melakukan praktik atau melakukan penyelidikan keadaan sosial berpotensi terkena penyakit dogmatisme ini. Misalnya, ketika kita banyak baca teori tentang dampak kapitalisme pada rakyat, lalu kita mengajak massa untuk melawan kapitalisme sebagai sasaran pukul utamanya, padahal kita tengah berada di pedesaan yang sistem sosialnya masih feodal dan belum ada simpul kapitalisme di dalam desa tersebut. Di sinilah letak kesalahannya dan tidak cukup objektif untuk bisa membawa massa maju. Perjuangan ini akan selalu mengalami kegagalan karena kesalahan dogmatisme.

Empirisme, pandangan ini yang menempatkan pengalaman panca indra sebagai basis utama dari lahirnya pengetahuan. Artinya ia hanya mempercayai suatu hal yang ia alami lewat panca indra pengalaman praktik dirinya. Seseorang yang mengidap empirisme cenderung menitikberatkan pengalaman sendiri tapi tanpa menimba pengalaman praktik di luar yang lebih maju. Seperti misalnya, di suatu kampus, kita mengalami situasi pendidikan yang sangat keras dan militeristis di kampus, dari sana kita menyimpulkan secara umum bahwa pendidikan adalah tidak terlepas dari persoalan kekerasan dan militeristis. Lalu menganggap secara umum/ menggeneralisasi di kampus-kampus lain pun bahwa pendidikan sebenarnya alat kekerasan yang diciptakan untuk mahasiswanya, dan itu dijadikan bahan propaganda kita secara umum. Inilah sesat berpikir kita dalam menganalisis keadaan sosial secara kekhususan dan keumuman.

Revisionisme, pandangan ini hanya hendak untuk merevisi atau mengoreksi suatu pandangan dalam hukum dan sistem yang berlaku. Artinya mereka mempercayai akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang lebih baik lewat perjuangan yang sifatnya reformis dalam batasan kaki langit Imperialisme dan feodalisme. Perjuangan yang dimanifestasikannya hanya tambal-sulam di atas sistem lama yang usang. Mereka yang terjebak dalam revisionisme hanya memperbaiki keburukan-keburukan yang dihasilkan dari sistem lama tapi tanpa berniat menghancurkan sistem lama itu sendiri yang berkarakter setengah jajahan setengah feodal.

Eklektisisme (sinkretisme), pandangan ini merupakan aliansi berpikir dari pencampuradukan berbagai macam disiplin teori dan filsafat. Misalnya terkadang seseorang mencampur adukan filsafat barat dan filsafat timur untuk dijadikan satu pedoman berpikir dia. Padahal, dia telah menghilangkan prinsip-prinsip utama salah satu pedoman berpikirnya. Teori-teori yang diusungnya pada akhirnya bersifat kacau-balau. Dia tidak akan utuh, dangkal, dan tidak ilmiah. Misalnya, banyak yang memakai afinitas teori marxisme yang coba dikolaborasikan dengan filsafat yang berlawanan (idealisme) sebagai aliansi sistem berpikir. Pada akhirnya banyak teori-teori marxisme yang tumpul, dan kehilangan prinsip-prinsip revolusionernya.

Subjektivisme di Bidang Politik

Oportunisme Kanan, dalam pengertian gerakan proletar, pandangan oportunisme kanan adalah pandangan yang terlalu membesar-besarkan kekuatan musuh, mengecilkan kekuatan sendiri. Pada akhirnya pandangan dan tindakannya cenderung kompromistis tanpa prinsip, karena menganggap kita tak mampu melakukan apa-apa lagi dan lebih bersifat melunak dalam melihat berbagai kebijakan-kebijakan yang menindas. Faktor-faktor luar adalah menjadi gantungan hidup gerakan, dari sini ketika menjadi suatu tindakan politik tentunya memiliki derajat subjektivisme yang tinggi, terutama dalam jajaran pimpinan organisasi.

Oportunisme Kiri, bila oportunisme kanan adalah paham dan tindakan yang cenderung kompromistis tanpa prinsip, maka sebaliknya pada kelompok/individu yang mengalami oportunisme kiri, yaitu segala pandangan dan tindakannya radikal tanpa prinsip. Pandangan ini bisa muncul dari ketidaksabaran dalam menempuh praktik perjuangan massa yang panjang, menganggap musuh terlampau kecil dan menganggap kekuatan sendiri sudah besar dan kuat. Pada akhirnya, radikal tanpa prinsip ini membawa pada kemunduran itu sendiri. Yang justru akan menguntungkan musuh dalam membuat skema kebijakan yang anti rakyat.

Subjektivisme di Bidang Organisasi

Liberalisme, inilah yang sering dan marak terjadi di tengah-tengah kita. Pada umumnya, liberalisme adalah suatu pandangan dan tindakan yang menghendaki kebebasan tanpa prinsip, yakni menomorsatukan kepentingan pribadi dan menomorduakan kepentingan kolektif dan massa. Pandangan yang terlampau liberal justru menjauhkan diri dari massa itu sendiri, mereka asyik dengan jalan pikirannya sendiri tapi tidak melihat objektivitas dari suatu pandangan dirinya tersebut. Pada hakikatnya, liberalisme adalah egoisme borjuis kecil yang memanifestasikan kebebasan individual atas nama demokrasi. Begitu pun liberal dalam segi bertindak sebagai manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri ketika kita masih hidup di alam setengah jajahan setengah feodal, yang masih melanggengkan feodalisme di dalam negeri sebagai sistem sosial yang terbelakang. Feodalisme sebagai sistem sosial selalu akan memproduksi kebudayaan yang terbelakang terhadap rakyatnya.

Manifestasi dari kebudayaan yang terbelakang adalah pola pikir sempit, anti ilmiah, bertindak spontan tanpa pertimbangan, hal-hal inilah yang sehingga menciptakan kejahatan kriminal, asusila, dan lain-lain. Suatu pandangan dan tindakan liberal pada hakikatnya lahir dari tradisi gaya hidup, sistem dan nilai-nilai borjuis pada masyarakat. Secara objektif, seseorang yang mengaku-ngaku aktivis, tetapi liberal dalam segi pandangan dan tindakan justru memainkan peranan yang menguntungkan musuh. Mereka akan disambut gembira oleh musuh-musuh rakyat karena sejatinya liberalisme memang berakar dari kelas borjuis. Suatu penyakit liberalisme juga akan memecah belah kekuatan massa bahkan menghancurkan organisasi bila tidak kita perangi. Dalam memerangi penyakit ini, sejatinya kita secara pribadi mesti memulai membiasakan diri bersikap jujur dan terbuka terhadap kolektif, dan kita membuka diri dengan rendah hati siap dikritik oleh kolektif, menundukkan kepentingan pribadi untuk kepentingan kolektif dan massa. Selain itu organisasi harus menjalankan sistem dengan disiplin yang ketat. Sistem yang ketat dengan berbagai pendidikan dan propaganda yang intensif akan mengantisipasi individu-individu dari praktik subjektivisme ini.

Sektarianisme, dalam lingkup organisasi sektarianisme adalah hasil dari praktik seseorang yang mengucilkan diri dari gerakan massa dan berlaku sebagai sekte kecil, suatu penyakit ini selalu memisahkan diri dari massa dan dengan demikian tidak akan memimpin massa untuk lebih maju ke depan. Pandangan sektarian menghindari basis dukungan massa luas dan kita cenderung gagal merengkuh massa secara luas, karena lebih mengedepankan gerombolan kecil dari diri kita, sektoralisme, dan anti terhadap gerakan mayor di luar kita.

Komandoisme, suatu sikap seseorang atau pimpinan dalam organisasi yang menyerukan suatu pandangan atau perintah terhadap anggota tidak sesuai dengan kondisi objektifnya. Mereka cenderung bersikap main perintah tanpa berdasarkan investigasi sosial dan analisis suatu keadaan di bawahnya. Komandoisme sebagai bagian dari subjektivisme yang merupakan penyakit dikarenakan seseorang/pimpinan tidak memahami secara objektif kondisi massa, tidak memahami perasaan massa, dan tidak mampu menyimpulkan apa yang diaspirasikan oleh massa. Pada akhirnya sering kali dari diri kita menghasilkan keputusan-keputusan secara organisasional yang sifatnya subjektif yang lahir dari ego segelintir pimpinan saja.

Buntutisme, sikap ini adalah sikap yang terlampau mengekor pada massa tanpa bersandar pada prinsip kepemimpinan yang tepat. Kita cenderung menunggu sikap apa yang akan diambil oleh massa secara spontan lalu kita ikuti secara menyeluruh. Sikap ini tidak menghendaki upaya untuk mengarahkan massa pada sesuatu yang benar, cenderung membiarkan hal yang salah meskipun itu kehendak massa mayoritas. Fenomena ini menghancurkan sikap kepemimpinan itu sendiri dan tidak akan membawa perubahan yang lebih maju dari gerakan massa.

Birokratisme, penyakit ini adalah praktik sikap berdiri di luar, di atas basis massa, oleh karena posisi jabatan tertentu di dalam organisasi. Corak organisasi yang mengidap birokratisisme adalah ia cenderung elitis. Jalannya organisasi dalam berpraktik dibatasi oleh pagar-pagar hierarkis, hal ini biasanya bertumpu orientasi dan tujuan organisasi ke depan hanya untuk kepentingan individu/pemimpin. Corak birokratisme lahir dari pola pengorganisasian borjuasi di dalam suatu negara atau perusahaan.

Dari berbagai macam penyakit-penyakit yang harus kita hindari dan kita perangi, maka dapat kita simpulkan bahwa penyakit subjektivisme ada di tiga lapangan utama, yaitu ideologi, politik, dan organisasi. Mengapa kiranya kita penting belajar hal ini? pada akhirnya untuk bisa menghindari suatu pandangan dan tindakan yang dapat merugikan kita sebagai individu, organisasi, dan perjuangan massa.

Sering kali kita tidak akan menyadari penyakit kita tersebut, jika kita tidak meneguhkan diri pada kolektif dan cenderung mengedepankan unsur-unsur egoisme individual. Tidak ingin munafik, bahwa penulis pun sering kali mengalami penyakit subjektivisme ini. Dengan segala kerendahan hati kita mesti mengakui kesalahan-kesalahan diri kita dan memecahkan persoalan tersebut sekeras mungkin. Apalagi tidak dapat dipungkiri, latar belakang kita sebagai mahasiswa yang berwatak borjuis kecil. Kita sering didominasi oleh pikiran-pikiran borjuasi kecil, watak-watak inilah yang dapat menghancurkan gerakan massa. Manifestasi dari watak ini biasanya seperti pikiran heroisme, mengejar kesenangan, sikap suka dipuja, dan bersikap berdasarkan sentimen, semuanya itu tidak jarang tumbuh di lingkup aktivis.

Dengan demikian, sebagai seorang aktivis massa kita harus mengubah watak borjuasi kita agar tidak merugikan gerakan massa. Caranya adalah dengan banyak membaca buku-buku dengan teori yang maju, menceburkan diri dalam gerakan massa dan selalu berada di tengah-tengah massa, belajar dari massa dan menggunakan jalan massa, mengedepankan segala hal yang objektif tapi juga turut menyertakan aspek subjek sebagai tenaga pendorong kekuatan perubahan, serta mengintensifkan pendidikan dan propaganda terhadap massa dan banyak memberi kesempatan pada massa dan anggota untuk mengutarakan pendapatnya.

Lalu yang terakhir, untuk bisa menghancurkan kontradiksi di internal yang dihinggapi oleh kentalnya subjektivisme, kita mesti melakukan kritik oto kritik yang berdasarkan pada simpulan pengalaman praktik di bidang politik dan organisasi. Jika kita lihat secara ideal, memang semua sintesis dalam menangkal subjektivisme itu seperti hal yang mudah kita ucap, tapi implementasinya terkadang sulit kita jalankan. Oleh karenanya, sebisa mungkin, sekeras mungkin, kita harus menempa diri kita lebih hebat lagi untuk menunjukkan keseriusan kita dalam  perjuangan dan organisasi. Karena perubahan sejatinya tidak tercipta dari hasil gerakan yang setengah-setengah, melainkan perubahan dapat tercipta dari perjalanan panjang suatu perjuangan, yang itu semua hasil dari akumulasi keseriusan kita dalam berpraktik dan belajar. Setahap demi setahap kita harus berani memulai. Karena sejatinya massa menanti-nantikan kita untuk dapat maju bersama. Bila kita dirasa masih kecil, mulailah dari apa yang kita bisa, dan terus kembangkan diri kita menjadi lebih besar dan berpengaruh pada perjuangan. Bila kita merasa selalu gagal dan pesimis melihat keadaan, coba lagi, terus-menerus perbaiki praktik kita dan jangan pernah patah arang! Sebab perjuangan sejatinya tidak akan pernah dihadapkan pada jalan yang lurus, kita akan selalu dihadapkan oleh jalan yang berliku, dan dihadang oleh kerasnya batu karang.
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Tentang Subjektivisme Sebagai Penyakit Kronis"