Headline News
Loading...

Islam dan Pembebasan (1. Merdeka dalam Mimpi)

Baca Kabar ini juga . . .

oleh : Baikuni Alshafa
Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur


Islam bukanlah agama yang anti terhadap perubahan dan kebudayaan lokalistik. Sebab, semua manusia adalah berbudaya dan berhak untuk mengembangkan kebudayaannya.


Islam bukanlah milik otoritas kebudayaan arab saja atau salah satu kelompok, namun islam milik semua manusia yang menghargai kemanusiaan dan kebudayaan, kalau ungkapan Quraish Shihab agama islam itu untuk semua yang tidak ada habisnya, yang begitu lebar untuk menampuk semua yang ada di bumi dan dilangit.

Islam secara universal adalah dakwah kemanusiaan yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari ketertindasan, ketidakadilan, kemunafikan, dan hegemoni kekuasaan. Jika dakwah islam secara pendekatan kemanusian hanya dipandang strategi, maka islam akan kehilangan makna, yaitu hanya sekedar misionaris yang giat melakukan apa saja demi menambah kuantitas pemeluknya, sangat murah salah menyalahkan diluar keyakinannya.

Beda hal-nya apa yang dilakukan Rasulullah SAW dalam dakwahnya sangat menekankan subtansial saat beliau berada di Makkah, dimana budaya lokal dipenuhi dengan kejumudan dan kegelapan, namun apa yang dilakukan beliau saat menjalankan dakwah secara subtasial serta menuang esensi nilai-nilai islam sebagai spiritnya, bukanlah dogma sebagai alat untuk menekan ajakan untuk berada di jalan Islam. Sedangkan islam yang diajarkan yaitu islam bertujuan sebagai nilai yang dimaksud adalah spirit kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kerjasama, dan semangat melawan penindasan terhadap manusia.

Realitas saat ini, jangan tersinggung bagi yang merasa melakukannya. Di era ketika individualisme menjamur dengan semerbak menjadikan solidaritas kemanusiaan terhadap sesama berganti menjadi solidaritas kepentingan individu maupun kelompok, seolah ormas dikebiri oleh kepentingan kuasa modal, seolah uang dan tahta adalah panglimanya di negeri ini. Ormas satu dengan ormas lain beradu massa kuantitas sebagai pemain utama untuk menggiring opini rakyat sebagai yang paling benar, dan yang minor sebagai pengamat serta penonton.

Kembali lagi, jika dakwah jauh dari subtansi kemanusiaan dan sangat jauh dari kata layak dan hidup kesusahan atas belenggu ekonomi politik saat ini, maka sangat layak untuk kita segerakan dakwah secara sosial kultur pendekatan solidaritas atas kepedulian senasib sesama rakyat tertindas dan tak memandang siapa dan apa warna kulitnya. Agar kemudian dalam menjalankan islam benar benar subtansial bukan sekedar formalitas dan simbolik.

Jangan heran jika solidaritas hanya dipertontonkan oleh gerakan cauvinisme dan gerakan kepentingan satu golongan, entah itu ormas atau organisasi kepemudaan, maka jangan heran pula kita akan menemukan perdebatan tanpa ujung, ibarat mesin mix dalam kubangan lumpur yang pada ahirnya akan tenggelam dalam kehancuran.

Wajah gerakan saat ini seolah sangat jauh dari kepentingan rakyat di sektor pokok dengan ancaman ekonomi yang menghimpit kehidupan rakyat setiap hari semakin melemah dari segala sektor. Contoh baru baru ini naiknya harga salah satu item bumbu dapur yang sangat vital bagi gurihnya masakan para istri harganya harus membumbung tinggi.

Saya tak habis pikir, logika apa yang digunakan pemerintah saat ini, dimana negeri yang memiliki lautan terluas dibandingkan daratan harus import garam, ada apa dengan Negeri ini ?

Kita teriak dibungkam dengan hadirnya UU Ormas, seolah ruang Demokrasi hanya bagi pemenang, dan yang lemah dipaksa untuk diam membisu, dengan hati yang gundah terbakar akan kekecewaan melihat negeri yang kita cintai..

17 Agustus 17, Merdeka dalam mimpi !!!

Bersambung...
Share this article :
+
Previous
Next Post »
1 Komentar untuk "Islam dan Pembebasan (1. Merdeka dalam Mimpi)"


Thanks for one's marvelous posting! I certainly enjoyed reading it, you will be a great author.I will always bookmark your blog and will eventually come back from now on. I want to encourage continue your great work, have a nice morning! netflix login