Headline News
Loading...

Kemerdekaan Formalistik

Baca Kabar ini juga . . .

oleh : Ubay Nizar Al-Banna
Ketua Bidang Media dan Komunikasi DPD IMM Jawa Timur


Indonesia akan genap berusia 72 tahun pada 17 Agustus 2017 mendatang, tepat di hari Kamis. Seperti biasa, ramai-ramai gegap gempita nan meriah menghinggapi seluruh penduduk Indonesia. Bisa dilihat dari banyak dan meriahnya penyelenggaraan lomba-lomba di RT (Rukun Tetangga), RW (Rukun Warga), perkampungan, desa-desa, hingga sekaliber nasional pun turut memeriahkannya dengan rangkaian pagelaran lomba dan semacamnya. Belum lagi nantinya disambung dengan upacara bendera tepat di tanggal 17 Agustus-nya dan puncak peringatan kemeerdekaannya pula.


Ketika waktu (bulan) memasuki bulan Agustus beramai-ramai seluruh penduduk mengibarkan bendera kebesaran, simbol kebanggan negara, Sang Saka Merah-Putih. Terjadi di seluruh penjuruh tanah air ini, mulai dari wilayah terdalam hingga wilayah terluar, baik daerah maju maupun terbelakang, yang dekat dengan pusat pemerintahan ataupun yang terbelakang dan terpelosok, semuanya mengibarkan Sang Saka Merah-Putih.

Namun, sudahkah nilai-nilai luhur bangsa ini serta substansi dari merah-putih, sang saka tersebut telah terinternalisasi dan menyatu dalam jiwa-raga kita. Khawatir rasanya bilamana pengibaran bendera kebesaran dan upacara bendera serta berbagai "gawe" untuk memeriahkan dan memperingati merdeka-nya Indonesia tersebut hanya sebatas pada ritus formalistik. Kita hanya sekedar menaikkan bendera, sekedar berdiri di lapangan upacara dan mengikuti upacara sesuai tata caranya, kita hanya sekedar mengadakan lomba dan mengikuti lomba, bahkan cuma untuk senang-senang dan semata mendapatkan hadiah (reward) atas lomba yang kita ikuti.

Semangat perjuangan, nasionalisme yang sejatinya ingin ditanamkan melalui peringatan kemerdekaan, baik berupa upacara maupun cara-cara lainnya seolah kini hanya sekedar seremonial dan guna menggugurkan kewajiban sebagai penduduk Indonesia untuk menghargai dan menghormati hari lahir negeri ini.

Upacara bendera misal, sejatinya kegiatan yang satu ini bisa dibilang positif untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, memaknai perjuangan kemerdekaan yang "ditemani" kucuran keringat, air mata, dan darah. Di sekolah pun bukan hanya dalam momentum kemerdekaan diadakan upacara. Kalau saya mengingat masa kecil saya di sekolah, setiap hari Senin pasti ada upacara bendera, baik itu di tingkatan sederajat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Pertama (SMP), juga di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Di institusi-institusi dan lembaga pun demikian, dalam momentum tertentu juga ada upacara bendera, minimal dalam momentum kemerdekaan yang demikian.

Jika para pejuang dulu untuk sekedar melakukan upacara bendera dengan mengibarkan bendera merah-putih sangat sukar untuk dilakukan, maka akan muncul rasa bangga dan timbulnya semangat nasionalisme. Lain halnya dengan kondisi kekinian penduduk negeri ini, baik yang masih muda, maupun yang sudah dewasa, hingga tua renta. Bagi masyarakat luas kebanyakan upacara bendera hanya sebuah seremonial formal tanpa mengerti makna dibaliknya. Hanya berdiri tegap, berbaris, dan hormat tanpa makna, kurang lebih demikianlah yang terjadi dan bisa dirasakan dalam kondisi terkini bangsa dan negara ini.

Pengibaran bendera sang saka merah-putih nan sangat diagungkan pun demikian, ia tak lebih hanya sekedar simbolik atas wujud hari "sakral" di tanggal 17 Agustus tiap tahunnya. Berkibarnya sang saka di seluruh penjuru tanah air tidak benar-benar dimaknai untuk menumbuhkembangkan rasa bangga dan cinta tanah air, untuk memantapkan rasa nasionalisme.

Lomba-lomba yang sejatinya ditujukan untuk memeriahkan dan lebih menginternalisasikan nilai-nilai perjuangan serta rasa cinta akan tanah pusaka Indonesia seolah kini tinggal berupa sekedar lomba, sekedar sebagai kompetisi rutin setiap tahunnya, dan (mungkin) hanya sekedar untuk mencari reward tanpa memaknai sungguh-sungguh substansi yang tersirat di dalamnya.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah tiba begitu saja. Perjuangan berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun, bahkan berabad-abad lamanya menghadirkan kemerdekaan yang hingga kini segera memasuki usia ke-72 tahunnya, hampir 3/4 abad tuanya negeri ini.

Maka sudah barang tentu semestinya kita sebagai warga negara, penduduk "resmi" Indonesia untuk mengisi keberlangsungan negeri ini dengan kemajuan dan membangun peradabannya tanpa menghilangkan sejarah dan budaya serta nilai luhur yang sudah terwariskan jauh sebelum negeri ini terlahir.

Gempuran budaya dan teknologi serta berbagai hal lainnya yang menggiurkan dari berbagai pihak (negara) patut untuk dipilah dan dipilih mana yang memang layak untuk diadopsi dan diadaptasi serta yang mana pula yang sudah semestinya "dimusnahkan".

Sudah semestinya nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, maupun nilai-nilai yang terkandung dalam ritus tertentu semisal hari kemerdekaan ini untuk dapat dimaknai dengan sungguh dan dijadikan "cambuk" semangat menuju Indonesia yang lebih baik. Semua harus dimulai dari pribadi, tiap-tiap individu. Untuk itulah pentingnya pendidikan karakter dan pemahaman menyeluruh, demi mampu memaknai berbagai hal dan nilai luhur serta mengupayakan kemajuan bangsa dan negara ini.

Mengisi momentum kebangkitan nasional bukan sekedar dengan lomba orasi dan seminar, merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan datang di upacara, berdiri, hormat, menyanyi lalu pulang tanpa membekas dalam benak setitik pun, dan lain sebagainya. Tapi supaya momentum-momentum yang demikian tersebut dapat menjadi ajang refleksi diri setiap komponen bangsa untuk menjadi lebih baik serta membawa Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Akhir kata, Dirgahayu 72 tahun Indonesiaku, ikhtiar dan do'a terbaik selalu menyertaimu !!!
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Kemerdekaan Formalistik"