Headline News
Loading...

IMM Surabaya Galakkan Literasi dengan Launching Cendekiawan Institut

Baca Kabar ini juga . . .

Foto: Stadium General dalam pembukaan sekolah riset dan deklarasi cendekiawan institut IMM Surabaya

Surabaya, IMMJatim.org - Hari ini, Jum'at (23/2) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Surabaya melaksanakan pembukaan sekolah riset sekaligus deklarasi cendekiawan institut bertempat di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Cendekiawan Institut dibentuk sebagai lembaga literasi untuk memperkuat pola pikir dan karakter masyarakat yang kuat serta mampu bersaing di era milenial. "Critical thinking harus terbentuk dalam bangsa majemuk agar selalu mampu berinovasi dan kader Cendekiawan Institut berperan dalam perubahan bangsa," terang Azrohal Hasan, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Dewan Pimpinan Daerah (RPK DPD) IMM Jawa Timur yang hadir dan meresmikan pembukaan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki, M. Si, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang menjadi pembicara dalam pembukaan tersebut menuturkan bahwa Bangsa Indonesia bukan merupakan bangsa yang disiplin. "Orang Jepang juga punya waktu 24 jam sehari sama seperti Indonesia, tapi orang Indonesia belum bisa memanfaatkan waktu dengan baik, contohnya jam karet ketika acara," jelasnya.

"Yang kedua," lanjutnya, "budaya mutu kerja, sering dijumpai pekerjaan yang asal-asalan, mahasiswa asal mengumpulkan tugas, banyak infrastruktur yang tiba-tiba roboh. Lalu berkarakter untuk menjadi lebih baik, belum mempunyai budaya monokronik seperti Jepang, misal tidak ada kendaraan lewat di jalan, tapi kalau lampu lalu lintas sudah menyala merah mereka akan senantiasa sabar menunggu, tidak banyak tempat sampah di tempat-tempat umum, bahkan tidak ada," imbuh pria yang juga menjabat sebagai Penasehat Dewan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur periode 2016-2020 itu.

Generasi milenial (yang disebut generasi Z), sekitar 75% orang memiliki ponsel sendiri, 25% digunakan untuk media sosial, 54% untuk texting, dan 24% untuk instant messaging sebagaimana pemaparan Agus Sholikhin, M.Si, dosen Ilmu Falaq Universitas Sunan Ampel Surabaya (UINSA). "Dalam sehari, hampir 7,5 sampai 11 jam digunakan untuk berinteraksi dengan gawai digital untuk menikmati konten dan berinteraksi digital," ujarnya.

Seminar ini ditutup dengan tanya jawab peserta, kedua pemateri berharap masyarakat Indonesia harus bisa tertib dalam segala hal, dengan masyarakat tertib akan menjadi pondasi membangun pola pikir dan soft skill yang baik , harapan menjadi negara yang maju dan mempunyai masyarakat yang sejahtera. (azr/ubay)
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "IMM Surabaya Galakkan Literasi dengan Launching Cendekiawan Institut"