Headline News
Loading...

Surat Permohonan Maaf Terbuka kepada @afuadi

Baca Kabar ini juga . . .

Foto: Ade Chandra Sutrisna

Dari Aa (@yogigustaman01) aku mulai mengenal karya-karya @afuadi. Ketika itu Aa masih nyantren di Kuningan (@forsilampusat), Jawa Barat. Sewaktu kesempatan liburan sekolah, kami berdua menyengaja mengunjungi toko buku di kota kami. Di sebuah sudut toko buku itu, Ia menunjukan tumpukkan buku bersampul coklat, bergambar lima menara yang membingkai tulisan "Negeri 5 Menara".

Dia bilang bukunya bagus. Aa tahu dan membaca buku itu dari koleksi buku-buku perpustakaan pesantren. Ceritanya seputar kehidupan pesantren dan mimpi seorang santri untuk bisa keliling dunia. Lewat penuturannya itu, sempat kuambil dan perhatikan lekat sampul dan sekilas kubaca sinopsisnya. Namun, karena merasa belum menemukan kecocokan pada temanya (kata kunci: pesantren, santri, keliling dunia), aku acuh tak acuh saja. Ku taruh buku itu ke tempat semula.

Sebenarnya sudah beberapa kali kulihat buku itu bertengger di jajaran rak buku-buku best seller. Bahkan aku awalnya menyangka kalau buku itu bergenre fantasi. Bisa dilihat dari sampul bukunya yang lebih terkesan kepada buku-buku serupa Hary Potter atau seri detektif Sherlock Holmes. Aku terus terang tidak suka buku-buku terjemahan, juga tidak tertarik sedikitpun membaca buku-buku khayalan (fantasi).

Setelah memilikinya, aku baru sadar, salah satu di antara kelima menara yang melingkar itu adalah Tugu Monas. Kenapa kemudian akhirnya aku memiliki buku itu? Ternyata, tak lama kemudian, sekira satu-dua bulan setelahnya buku ini banyak diulas diberbagai media massa. Dimulai dari situ, rasa penasaranku mulai tumbuh dan meng-azzam-kan diri untuk bisa memilikinya. Namun karena pertimbangan harga -karena nominalnya tak cocok dengan ukuran kantong siswa sekolah menengah- aku tak kunjung memilikinya.

Selang beberapa waktu kemudian, saat kebetulan Aa tengah mengikuti kursus intensif selama sebulan di Kampung Inggris (Kediri, Jawa Timur), Aa diajak teman seprogramnya pergi ke sebuah tempat penjualan buku-buku bajakan (photo copy). Aku lupa nama tempatnya. Di sana, Ia menemukan buku Negeri 5 Menara dengan nominal harga teramat miring; lima belas ribu rupiah! Hari itu juga Aa menelponku kalau-kalau tertarik dengan tawaran harga sekian. Ku iyakan saja.

Aku sudah curiga sejak awal, tidak mungkin buku yang masih naik cetak dan gagah ter-display di barisan buku best seller, dijual dengan harga bantingan. Sudahlah, pikirku. Untuk apa juga aku memikirkannya. Kalau ada kesempatan yang bisa dijangkau, apa salahnya. Buku palsu atau asli, sama saja bagi anak yang baru mulai mengerti dan sedang keranjingan membaca buku. Asli atau palsu sama saja. Masa bodoh!

Tersiar kabar A. Fuadi menggelar bedah buku di tempat tak jauh dari lokasi Aa kursus. Ia bertekad meminta tanda tangan langsung kepada si penulis dan menghadiahkannya kepadaku sepulangnya nanti. Tak disangka, saat sesi tanda tangan, Aa ditolak mentah-mentah dan justru diceramahi untuk tidak lagi membeli buku bajakan. Aa menceritakan saat itu Bang A. Fuadi agak bernada keras. Aa pun pulang dengan tangan hampa, tanpa oleh-oleh setitik pun tanda tangan A. Fuadi. Ya sudahlah, kataku. Aku kadung girang bukuku bakal ditandatangi langsung oleh si penulis.

Berawal dari Negeri 5 Menara, aku mulai mencari segala informasi tentang si penulis dan mulai mengagumi hal-hal yang berkaitan seputar perkembangan buku itu. Mendengar kabar bahwa buku ini berseri (Trilogi 5 Menara) aku bersiap sedia untuk memburu di manapun keberadaan seri buku berikutnya itu. Meski isi kantongku tak lagi sama, karena aku sudah kuliah, aku masih berpikir untuk mencari buku bajakannya. Dan... ketemu! Aku berjodoh dengan buku bajakannya di Pasar Wilis (pasar buku bekas dan bajakan termahsyur di Malang, Jawa Timur). Tinggal satu seri lagi, bakal lengkap sudah koleksiku.

Tanpa ada perasaan berdosa, aku masih menunggu terbitnya satu seri lagi dari trilogi itu. Untuk yang ketiga ini aku tidak terburu-buru. Aku pikir bisa  membelinya kapanpun aku mau. Apalagi kini aku sudah tahu betul, juga kemudahan akses dimana aku bisa mendapatkan buku bajakannya. Tapi ternyata tidak. Sejak aku mulai bisa mengatur uang bulananku, aku mulai berpikir untuk membeli buku ori untuk seri terakhir ini. Begitupun untuk jenis buku lainnya. Yup, terbeli!

Selang beberapa tahun kemudian, ternyata tema “Merantau” dibuku seri ketiga “Trilogi 5 Menara” bukanlah sebagai penutup. A. Fuadi kembali menelurkan sebuah novel dengan tema dan latar yang sama, di tanah Orang Minang. Buku itu berjudul “Anak Rantau” yang baru aku selesaikan membacanya (Sabtu, 3 Februari 2018 pukul 23.30 WIB), setelah sempat mandeg karena terganjal pekerjaan lain. Ini buku ori! Aku bahkan ikut pre-order untuk bisa mendapatkan tanda tangan ekslusif juga gelang “Anak Rantau”-nya.

Setelah habis membaca buku-buku abang A. Fuadi, yang tak boleh bahkan haram terlewatkan adalah bagian halaman Tentang Penulis. Aku acapkali membacanya berulang-ulang dibagian ini. Aku sangat termotivasi dengan sederet raihan dan kontribusi yang abang berikan untuk ummat. Abang tahu? Di rantau, aku banyak mendengar cerita-cerita tentang Gontor dari penuturan langsung alumninya. Adalah @abduljalil dan @rajih. Terimakasih banyak.

Lewat cerita panjang lebar tadi, pada intinya, saya Ade Chandra Sutrisna (@adecsutrisna) dengan setulus hati hendak meminta maaf kepada Bang A. Fuadi karena tidak menghargai karya Abang, dengan tidak membeli barang ori. Dan saya ber-azzam untuk membeli serta melengkapi koleksi buku Trilogi 5 Menara saya (minus Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna) dengan buku-buku original. Janji ini tidak hanya untuk buku-buku Bang A. Fuadi, tapi juga untuk buku karya penulis-penulis lainnya.


*) Ade Chandra Sutrisna, Sekretaris Bidang Media dan Komunikasi DPD IMM Jawa Timur 2016-2018
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Surat Permohonan Maaf Terbuka kepada @afuadi"