Headline News
Loading...

Gerakan Ilmu dan Nalar Kritis IMM

Baca Kabar ini juga . . .

Gerakan Ilmu dan Nalar Kritis IMM
oleh : Didin Mujahidin


IMMJatim.org - Kita sedang dihadapkan dalam kemajuan teknologi yang begitu pesat, dimana akses informasi dapat berlangsung dalam hitungan detik. telah berubah 360o kebiasan-kebiasaan masyarakat indonesia dalam segala bidang. Dalam era digital ini semua sisi kehidupan merasakan dampaknya, mulaidari bidang ekonomi, sosial budaya dan parahnya lagi dunia pendidikan mendapat dampak yang sangat signifikan. Ditandai dengan melemahnya naluri-naluri kepemimpinan dan lemahnya minat baca pada masyarakat indonesia yang menduduki peringkat ke 60 dunia (CNN, 2017). Jumlah lembaga pendidikan tinggi dari data Ristekdikti, 576 universitas, 193 institut, 2492 sekolah tinggi, 260 politeknik, 1085 akademi. Melihat jumlah tersebut terasa amat miris ketika kita menengok minat baca masyarkat sangat rendah. Dunia pendidikan patut mendapat kewaspadaan, kemajuan sebuah bangsa ditandai dengan perkembangan pendidikan. Kelemahan minat baca sangat berdampak pada pembentukan nalar kritis, pragmatisme semakin merajalela. Banyak masyarakat mengatakan pendapat mereka secara dangkal tanpa rujukan-rujukan yang jelas, inilah yang menjadikan masyarakat darurat hoax. Informasi yang didapat tanpa dicerna dengan cerdas menjadi bahan rujukan mereka. Howard Gardner, lewat Five Minds for the Future (2007), menyebut darurat nalar kritis bagi anak bangsa di era digital. Era visual yang begitu menarik mendorong lemahnya minat baca. 


Ancaman pelemahan literasi inilah yang harus dibaca oleh Gerakan Mahasiswa. Mahasiswa sebagai ujung tombak peradaban bangsa, harus siap menghadapai kemajuan era digital. Bukannya malah terlalut dalam kondisi yang serba mudah ini, dimana kegiatan copy dan paste menjadi kebiasaan bahkan suatu kebanggaan. Kondisi inilah yang harus dibaca oleh gerakan mahasiswa terutama bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Gerakan yang harus dikembangkan harus lebih bisa membaca kondisi yang terjadi kekinian. Bukan malah melakukan gerakan kolot yang belum jelas muaranya. Budaya-budaya membaca diskusi dan aksi harus menjadi rutinitas gerakan mahasiswa. Mahasiswa harus cerdas dalam membaca lingkungan dan kebangsaan. Jangan sampai gerakan mahasiswa terprovokasi oleh media-media yang belum jelas kredibilitasnya. 

Konsep “Muhammadiyah Gerakan Ilmu” sudah hampir berusia 30 tahun sejak pertama kali digulirkan pada tahun 1985. Pengagasnya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, waktu itu menjadi anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Setelah menjadi Ketua PP Muhammadiyah (2000-2005) pemikiran itu terus digulirkan (suara muhammadiyah). Pembacaan gerakan ilmu muhammadiyah didukung dengan banyaknya jumlah perguruan tinggi muhammadiyah yang telah ada. Sudah sepatutnya aktivis muda muhammadiyah atau IMM membaca apa yang sedang dicita-citakan sang ayahanda. Gerakan-gerakan keilmuan harus menjadi ciri khas dari Ikatan mahasiswa muhammadiyah. Buya Syafii beranggapan bahwa “kalau gerakan atau aktivisme tanpa didukung dengan ilmu pengetahuan, maka tujuannya jadi tidak jelas”. Jadi, ilmu pengetahuan itulah yang menjelaskan mau ke mana arah kita. Apalagi ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, dan sebagainya itu penting sekali. Dengan membaca ilmu-ilmu itu, kita akan tahu Muhammadiyah sedang berada di mana dan ajaran Islam yang akan kita bumikan sudah sampai di mana. Tentu harus ada evaluasi terus menerus. Hal inilah yang kurang menjadi pembacaan para aktivis IMM, yang menurut kacamata saya muara dari ikatan ini perlu kita perjelas secara bersama. Banyak gerakan-gerakan yang kurang efektif sering dilakukan oleh ikatan ini. 

Nalar kritis bagi tiap aktivis ikatan harus dikuatkan kembali, krisis moral juga sedang dilanda oleh gerakan mahasiswa. Dangkalnya pengetahuan berdampak pada dangkalnya moral. Kondisi ini harus kita sudahi, dengan membudayakan literasi dalam tubuh ikatan diharapkan mampu menghadapi kondisi zaman dan menunjukkan bahwa Ikatan Mahasiswa benar-benar menjadi ujung tombak yang siap menjadi penerus cita-cita perjuangan Muhammadiyah. Literasi secara bahasa adalah aktivitas membaca dan menulis saja, ini yang sering menjadi salah tafsir dari kata literasi tersebut. Padahal literasi sangatlah luas, Education Development Center (EDC) menyatakan, literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (Skills) yang dimilikinya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencaku kemampuan membaca kata dan membaca dunia. Aktivitas membaca, diskusi dan aksi harus menjadi rutinitas dari ikatan, jendela pengetahuan akan terbuka dan aksi kongrit menjadi ujung tombak gerakan. 

Kita belum sampai pada rumusan kesatuan ilmu pengetahuan. Konsep unity of knowledge itu penting sekali. Kalau kita merujuk Al-Qur’an, qul inna shalaati wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaati lillahi rabbil ‘alamiin, itu tidak ada yang sekuler. Hidup dan matiku hanya untuk Allah. Tidak ada yang duniawi karena itu adalah sarana untuk akhirat. Dan di akhirat kita tidak akan berjaya kalau di dunia justru kandas. Itulah urgensinya ilmu pengetahuan. Jadi, konsep-konsep seperti itu memang masih perlu disebarkan lebih luas (Ma’arif).

Jiwa kritis dalam ikatan tak boleh pudar, ketajaman pemahaman ikatan akan kondisi kebangsaan tercermin lewat sikap-sikap yang diambil dalam berbagai kebijakan. Matinya daya kritis mahasiswa pertanda matinya gerakan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang bungkam belakangan ini, dalih bersikap netral jadi pujaan. Mental-mental penjilat jangan sampai ada dalam tubuh ikatan. Kader ikatan harus dapa hadir di tengah kondisi mahasiswa yang semakin apatis dan autis ini. Mencerahkan dunia kemahasiswaan menjadi kewajiban tiap kader. Begitupun dengan kondisi kebangsaan yang tampak keruh, mulai saat ini ikatan harus segera menyiapkan kadernya untuk mengisi pos-pos kebangsaan sebagai wujud jihad konstitusi sebagai upaya membentuk masyarkat yang sejahterah. 

“Jadilah kalian dokter, jadilah kalian insinyur, jadilah kalian guru, jadilah kalian arsitektur tapi kembalilah kepada Muhammadiyah.” (KHA. Dahlan). Pesan itu patu kita renungkan kembali didalamnya tersirat pentingnya sebuah ilmu pengetahuan dalam menggerakkan persyarikatan bahkan ikatan. sudah sepatutnya bagi aktivis mahasiswa muhammadiyah untuk terus melanjutkan pendidikan tingginya, menjadi doktor, profesor yang akan mengisi dan mencerahkan kehidupan berbangsa untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Sebuah kemustahilan mencapainya tanpa ilmu, hanya menjadi utopis belaka. (*)

*) Penulis adalah kader IMM Universitas Negeri Malang

Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Gerakan Ilmu dan Nalar Kritis IMM"